Menjelang siang, rumah itu tidak lagi terasa sepenuhnya sunyi.
Aku berdiri di dekat jendela ruang tamu ketika suara langkah mulai terdengar dari gang sempit di depan rumah. Bukan langkah yang tergesa. Lebih seperti orang-orang yang sengaja berjalan sedikit lebih lambat dari biasanya.
Beberapa bayangan melewati pagar kayu yang miring.
Seseorang berdehem pelan.
Lalu langkah itu bergerak lagi.
Aku tahu apa yang sedang terjadi.
Di tempat seperti ini, rumah tidak pernah benar-benar menjadi ruang pribadi. Orang tahu siapa yang datang. Orang tahu siapa yang pergi. Dan ketika dua orang yang sudah lama menghilang tiba-tiba muncul kembali, rasa ingin tahu akan bekerja lebih cepat dari kesopanan.
Aku memperhatikan detail kecil di luar.
Tirai rumah seberang sedikit terbuka.
Dua orang perempuan berdiri di dekat ujung gang, berbicara terlalu pelan untuk terdengar, tapi cukup jelas untuk dimengerti maksudnya.
Tatapan mereka sesekali jatuh ke arah rumah ini.
Bram keluar dari pintu depan seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia berdiri di halaman, lalu menyapa seorang lelaki tua yang lewat dengan sepeda.
“Pak.”
Lelaki itu mengangguk sambil tersenyum.
Percakapan singkat. Terlalu santai.
Seolah-olah Bram tidak merasa sedang diawasi.
Dari dalam rumah, aku memperhatikan semuanya.
Bram tampak seperti seseorang yang masih memiliki tempat di sini. Seperti orang yang pernah pergi sebentar lalu kembali.
Aku tidak merasakan hal yang sama.
Bagiku, rumah ini terasa seperti panggung kecil yang tiba-tiba menyala lampunya, sementara orang-orang di sekitarnya duduk menonton tanpa benar-benar terlihat.
Dan perlahan aku menyadari sesuatu.
Rumah ini bukan hanya bangunan tua dengan dinding retak dan lantai kayu lapuk.
Rumah ini berdiri di tengah jaringan yang lebih besar; kenangan lama, gosip tetangga, dan keluarga besar yang mungkin belum selesai dengan masa lalu kami.
Aku baru saja menjauh dari jendela ketika terdengar suara ketukan keras di pagar depan.
Bukan ketukan ragu-ragu. Lebih seperti seseorang yang sudah merasa punya hak untuk masuk.
Bram yang lebih dekat dengan halaman menoleh ke arah suara itu.
“Masuk saja, Pak!” katanya.
Pagar berderit terbuka.
Seorang pria bertubuh agak gemuk melangkah masuk ke halaman dengan langkah mantap, seperti orang yang sudah pernah datang berkali-kali ke tempat ini.
Aku langsung mengenalinya.
Pak Darto.
Paman jauh dari pihak ibu. Orang yang dulu mengurus banyak hal setelah orang tua kami meninggal. Pemakaman, dokumen, dan semua hal yang terlalu rumit untuk dipahami dua anak kecil yang baru saja kehilangan segalanya.
Ia terlihat hampir sama seperti yang kuingat.
Perut sedikit lebih besar.
Rambut lebih tipis.
Tapi wajahnya masih memiliki ekspresi yang sama, senyum lebar yang terasa ramah, tapi matanya selalu terlihat seperti sedang mengukur sesuatu.
“Wah,” katanya dengan suara keras yang terlalu akrab, “akhirnya rumah ini ada penghuninya lagi.”
Bram tersenyum kecil dan menyalaminya.
“Sudah lama, Pak.”
“Lama sekali,” jawab Pak Darto.
Ia menoleh ke arahku.
“Arju, ya?”
Aku mengangguk singkat.
Ia tertawa kecil, seperti seseorang yang merasa nostalgia adalah sesuatu yang otomatis menyenangkan.
“Dulu kau kecil sekali waktu terakhir saya lihat.”
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Pak Darto berjalan masuk ke ruang tamu tanpa benar-benar menunggu undangan. Matanya menyapu ruangan dengan cepat; dinding, meja, foto lama di rak.
“Rumah ini akhirnya hidup lagi,” katanya.
Kalimat itu terdengar ringan, tapi ia mengucapkannya dengan nada yang membuatnya terasa lebih berat dari seharusnya.
Beberapa menit pertama percakapan berjalan sopan.
Ia bertanya:
Kapan kami datang?
Berapa lama kami akan tinggal?
Bagaimana pekerjaan kami sekarang?
Bram menjawab sebagian besar pertanyaan itu.
Aku lebih banyak diam.
Lalu, seperti yang bisa ditebak, percakapan mulai bergerak ke arah yang sebenarnya.
Pak Darto menepuk-nepuk sandaran kursi kayu.
“Rumah ini sudah lama kosong,” katanya. “Orang-orang di sini sering bertanya-tanya.”
Aku menatapnya.
“Bertanya apa?”
“Ya… apa yang akan terjadi dengan rumah ini.”
Ia mengangkat bahu sedikit.
“Namanya juga lingkungan kecil. Orang pasti penasaran.”
Lalu ia menambahkan dengan nada yang terdengar santai, tapi terlalu disengaja.
“Keluarga besar juga berharap rumah ini tidak dijual sembarangan.”
Bram tidak langsung menjawab.
Ia terlihat mencoba tetap sopan.
Tapi aku bisa merasakan perubahan kecil dalam suasana ruangan.
Bagi Pak Darto, bagi tetangga di gang ini, bahkan mungkin bagi keluarga besar yang jarang kami lihat, rumah ini bukan sekadar bangunan tua.
Rumah ini adalah sesuatu yang mereka rasa punya hubungan dengan mereka juga.
Dan untuk pertama kalinya sejak kami kembali ke sini, aku menyadari satu hal yang tidak menyenangkan.
Keputusan tentang rumah ini mungkin tidak akan sesederhana yang kupikirkan.
Pak Darto duduk di kursi kayu ruang tamu seperti seseorang yang sudah terlalu akrab dengan tempat itu untuk merasa canggung.
Beberapa detik ia hanya melihat-lihat sekeliling. Matanya berhenti di foto keluarga lama di atas lemari.
Ia menarik napas pelan.
“Rumah ini punya sejarah,” katanya akhirnya.
Nada suaranya berubah sedikit. Lebih pelan. Lebih berat.
Ia menunjuk ke arah foto itu.
“Dulu keluarga sering kumpul di sini. Lebaran, ulang tahun… bahkan acara kecil saja sering di rumah ini.”