Rumah Adik Kakak

Andre Sore
Chapter #6

Bab 6

Pagi datang terlalu cepat di rumah ini. Cahaya yang masuk melalui jendela tidak terasa hangat. Ia jatuh di lantai seperti sesuatu yang datar dan dingin, memperjelas debu yang belum sempat dibersihkan.

Rumah masih sunyi. Tapi bukan sunyi yang menenangkan. Lebih seperti sisa dari sesuatu yang belum selesai sejak malam sebelumnya.

Aku sudah duduk di meja makan sejak beberapa menit lalu, secangkir kopi di tanganku. Uapnya masih tipis, tapi rasanya sudah dingin sebelum benar-benar sempat kunikmati.

Percakapan semalam masih tersisa di kepalaku.

Cara Bram menatapku.

Cara ia tidak setuju, tanpa benar-benar melawan.

Aku menggeser cangkir sedikit. Bunyi kecilnya terdengar terlalu jelas di ruangan kosong.

Hari ini terasa berbeda. Bukan karena sesuatu yang sudah terjadi. Tapi karena sesuatu yang akan terjadi. Seolah-olah semua yang selama ini hanya berupa percakapan akan berubah menjadi keputusan.

Telepon di atas meja tiba-tiba bergetar. Layarnya menyala. Nama yang sama muncul lagi.

Pengacara.

Aku tidak ragu. Aku mengangkatnya sebelum getaran kedua berhenti.

“Selamat pagi, Arju.”

Suaranya langsung. Tidak ada basa-basi.

Aku tidak menjawab salam itu.

“Ada perkembangan?” tanyaku.

“Ada,” katanya. “Dokumen warisan sudah siap.”

Aku diam, memberi ruang agar ia melanjutkan.

“Anda dan saudara Anda perlu datang untuk menandatangani. Atau kami bisa kirimkan dokumennya, tapi prosesnya harus segera diselesaikan.”

Nada suaranya berbeda dari sebelumnya.

Lebih tegas.

Lebih menekan.

Aku bisa mendengar bunyi kertas di latar belakang. Suara yang rapi. Teratur. Seperti semua hal yang tidak dimiliki rumah ini.

“Kami butuh kepastian dalam waktu dekat,” lanjutnya. “Tenggat waktunya semakin sempit.”

Aku bersandar sedikit di kursi.

“Berapa lama?”

“Beberapa minggu. Tidak lebih.”

Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang lebih rendah.

“Jika ini terus ditunda, ada kemungkinan muncul komplikasi hukum.”

Aku menunggu.

“Pajak tertunggak, kemungkinan klaim dari kerabat lain, atau bahkan sengketa jika status rumah tidak segera diputuskan.”

Kalimat-kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang tidak bisa dinegosiasikan.

Jelas.

Kaku.

Tidak memberi ruang untuk perasaan.

“Ingat, Arju,” katanya akhirnya, “ini bukan lagi soal pilihan nyaman.”

Ia berhenti sebentar.

“Ini soal kewajiban hukum.”

Aku menatap meja di depanku.

Kayu tua. Goresan lama. Permukaan yang tidak pernah benar-benar rata.

Berbeda dengan dunia di ujung telepon itu. Dunia yang punya aturan jelas. Proses jelas. Akhir yang jelas.

Aku menjawab tanpa ragu.

“Kami akan selesaikan.”

“Baik. Saya tunggu konfirmasinya.”

Telepon terputus.

Aku tetap memegang ponsel beberapa detik lebih lama. Di dalam kepalaku, semuanya mulai terasa lebih sederhana. Tidak perlu memahami masa lalu. Tidak perlu membuka semua yang terkubur. Ada cara untuk mengakhiri ini. Dan untuk pertama kalinya sejak aku kembali ke rumah ini, aku melihat sesuatu yang terasa seperti jalan keluar.

Aku masih memegang ponsel ketika Bram muncul dari arah lorong. Langkahnya pelan, tapi matanya langsung tertuju padaku.

Ia tidak bertanya dulu.

Ia hanya melihat.

Dan entah bagaimana, itu sudah cukup.

“Ada apa?” katanya akhirnya.

Aku meletakkan ponsel di meja.

“Pengacara,” jawabku. “Dokumennya sudah siap.”

Bram tidak langsung bereaksi.

Aku melanjutkan sebelum ia sempat menafsirkan sendiri.

“Kita harus tanda tangan secepatnya. Bisa datang langsung atau mereka kirim dokumennya. Tapi kita tidak punya banyak waktu.”

Ruangan kembali sunyi beberapa detik.

Bram menghela napas pelan.

Ia berjalan mendekat, lalu berhenti di sisi meja makan.

“Itu terlalu cepat,” katanya.

“Memang harus cepat.”

Ia menggeleng sedikit, bukan menolak, lebih seperti tidak nyaman.

“Kita bahkan belum membaca semuanya.”

Aku menatapnya.

“Kita tidak perlu membaca semuanya untuk membuat keputusan.”

Lihat selengkapnya