Siang bergeser pelan ke sore, dan dapur terasa seperti ruang yang menahan panas terlalu lama.
Udara pengap.
Cahaya masuk dari jendela kecil di atas wastafel, tipis dan kusam, menabrak debu yang menggantung di udara. Dari luar terdengar suara motor lewat, percakapan tetangga yang tidak jelas, dan sesekali bunyi sesuatu jatuh di kejauhan.
Aku berdiri di depan meja. Tangan bergerak otomatis. Mengelap permukaan kayu yang sebenarnya sudah bersih. Menyusun kembali gelas yang tadi sudah tersusun. Menggeser piring agar sejajar.
Hal-hal kecil.
Hal-hal yang bisa dikontrol.
Setelah kemarin, setelah suara yang terlalu keras dan jarak yang terlalu dekat, ini satu-satunya cara untuk membuat sesuatu terasa stabil lagi.
Jika aku tidak bisa mengontrol percakapan,
setidaknya aku bisa mengontrol posisi benda.
Aku menuang kopi ke dalam cangkir lama, memperhatikan garis cairan itu berhenti tepat di bawah bibir gelas.
Sempurna.
Lalu suara langkah.
Tidak pelan.
Tidak juga hati-hati.
Bram masuk.
Ia berhenti di ambang pintu, lalu berjalan masuk seolah dapur ini miliknya sendiri. Dan mungkin memang begitu.
Aku tidak menoleh.
Tapi aku bisa merasakannya. Ruangan ini tiba-tiba terasa lebih sempit. Terlalu sempit untuk dua orang yang masih membawa sisa kemarahan yang belum selesai.
Bram berjalan melewati punggungku tanpa mengatakan apa pun. Langkahnya langsung menuju lemari. Ia membukanya dengan gerakan yang terlalu keras.
Pintu kayu itu membentur rangkanya dan memantul sedikit.
Aku berhenti mengelap meja.
Hanya sebentar.
Lalu lanjut lagi.
Bram mengambil satu gelas dari dalam. Bukan dari tumpukan yang baru saja kususun rapi, tapi dari bagian belakang, yang jelas belum kubersihkan.
Ia menuangkan air tanpa melihat ke dalamnya dulu.
Seolah-olah detail seperti itu tidak penting.
Aku menarik napas pelan. Masih mencoba tidak bereaksi.
Lalu ia menutup lemari itu lagi. Lebih keras dari sebelumnya.
Aku meletakkan kain lap di meja.
“Kalau tidak tahu cara menyimpan sesuatu,” kataku tanpa menoleh, “setidaknya jangan merusaknya.”
Bram berhenti.
Aku bisa merasakan ia menoleh ke arahku.
“Aku tidak tahu kita sedang di museum,” jawabnya.
Nada suaranya ringan.
Hampir santai.
Tapi cukup untuk membuat kalimat itu terasa seperti sindiran yang sengaja dilempar.
Aku akhirnya menoleh.
Ia berdiri di dekat wastafel, memegang gelas itu dengan satu tangan. Seolah-olah tidak ada yang salah. Seolah-olah semua yang baru saja ia lakukan bukan masalah.
Aku menatapnya beberapa detik.
Hal kecil.
Benar-benar kecil.
Gelas.
Lemari.
Cara menutup pintu.
Tidak penting.
Tapi entah bagaimana, justru hal-hal seperti ini yang paling cepat mengikis kesabaran.
Dan aku tahu ini belum apa-apa.
Tapi di tempat seperti ini, konflik besar jarang dimulai dari sesuatu yang besar. Biasanya dari hal-hal kecil yang tidak pernah dianggap serius… sampai akhirnya terlambat.
Bram meneguk air dari gelas itu tanpa benar-benar memperhatikan rasanya. Lalu ia menyandarkan punggung ke meja dapur, menatapku dengan ekspresi yang terlalu santai untuk situasi seperti ini.
“Kau bahkan mengatur cara orang lain bernapas?” katanya.
Aku tidak langsung menjawab.
Aku hanya menggeser satu piring lagi agar sejajar dengan yang lain.
“Kalau orang itu tahu cara bernapas dengan benar,” kataku akhirnya, “aku tidak perlu.”
Bram tertawa.
Bukan tawa yang hangat. Lebih seperti reaksi terhadap sesuatu yang terlalu akurat untuk diabaikan.
“Luar biasa,” katanya. “Bahkan di rumah sendiri kau masih bertingkah seperti bos.”
Aku menatapnya datar.
“Setidaknya aku tahu apa yang harus dilakukan.”
Bram mengangguk pelan, masih dengan sisa senyum di wajahnya.
“Oh, aku tahu,” katanya. “Kau selalu tahu.”