Lampu redup yang menyala saat malam menyisakan bayangan panjang di dinding. Sisa pertengkaran di dapur masih terasa. Bukan hanya di pikiranku. Tapi di udara. Di cara rumah ini terasa. Semuanya berbeda sekarang. Bukan hanya tegang. Lebih dari itu. Seolah-olah rumah ini tidak lagi sekadar tempat. Tapi sesuatu yang memperhatikan.
Aku menghembuskan napas pelan, mencoba mengabaikan pikiran itu. Terlalu mudah untuk mengaitkan semuanya dengan sesuatu yang tidak nyata. Terlalu mudah untuk kehilangan kendali. Tapi pikiranku tidak berhenti. Kembali ke satu hal. Surat itu. Kertas tipis yang masih tersimpan di sakuku. Dan kotak kayu di loteng.
Aku menatap ke arah lorong yang mengarah ke tangga. Gelap dan diam. Aku tahu aku bisa tetap di sini. Mengabaikannya. Menunggu pagi. Atau bahkan pergi. Tapi dorongan itu tidak hilang. Justru semakin kuat. Bukan sekadar rasa ingin tahu. Lebih seperti kebutuhan. Aku berdiri. Tanpa benar-benar memutuskan kapan aku membuat keputusan itu. Aku sudah tahu. Aku harus kembali ke sana.
Aku berdiri di tengah ruang tamu, menatap lorong gelap itu sedikit lebih lama dari yang seharusnya. Ada jeda pendek, tapi cukup untuk membuatku sadar, ini bukan keputusan yang rasional.
Aku bisa menunggu. Pagi akan datang. Semua akan terlihat lebih jelas, lebih masuk akal. Atau aku bisa pergi saja dari rumah ini. Menyelesaikan semuanya tanpa perlu menggali lebih dalam. Tapi pikiran itu tidak bertahan lama. Karena rasa ingin tahu ini sudah berubah. Bukan lagi sekadar pertanyaan. Lebih seperti sesuatu yang menekan dari dalam.
Aku ingin tahu isi surat itu. Aku ingin memastikan apa yang sebenarnya terjadi. Dan lebih dari itu, aku tidak ingin Bram menemukannya lebih dulu.
Aku merogoh saku jaketku sebentar, memastikan kertas itu masih ada. Lalu aku mengambil senter kecil dari meja. Cahayanya redup, tapi cukup. Tanganku terasa lebih berat saat menggenggamnya. Aku melangkah ke arah lorong. Setiap langkah terasa lebih lambat dari biasanya. Lebih sadar. Lebih… berat. Seolah-olah rumah ini tahu ke mana aku akan pergi, dan tidak benar-benar menginginkannya.
Tangga itu terlihat sama seperti sebelumnya. Sempit dan gelap. Dan terlalu diam. Aku mengangkat senter, menyorot anak tangga pertama. Kayunya kusam, retak di beberapa bagian. Aku melangkah. Bunyi berderit langsung pecah di udara. Lebih keras dari yang kuingat. Aku berhenti sejenak. Lalu melangkah lagi. Setiap pijakan menghasilkan suara.
Udara semakin pengap saat aku naik lebih tinggi. Debu dan bau kayu lama semakin pekat. Aku menarik napas pelan. Rumah ini terasa… bereaksi. Itu kata yang paling mendekati. Setiap bunyi terasa terlalu jelas. Seolah-olah tempat ini tidak ingin disentuh lagi. Tidak ingin dibuka kembali.
Aku tahu pikiran itu tidak masuk akal. Tapi aku tetap merasakannya. Dan aku tetap naik. Karena itulah caraku. Bukan menghindar. Bukan menunggu. Tapi menghadapi.
Langkah demi langkah. Di tengah tangga, aku berhenti. Aku mendengar suara pelan. Tidak jelas dari mana. Aku mematikan senter sejenak, membiarkan kegelapan mengambil alih. Mendengarkan. Hanya angin. Atau kayu yang bergerak. Atau mungkin sesuatu yang lain. Aku tidak yakin. Aku menyalakan senter kembali. Dan melanjutkan naik.
Pintu kecil loteng terbuka dengan dorongan pelan dari bahuku. Engselnya mengeluarkan bunyi panjang yang terasa terlalu keras untuk ruangan sekecil ini.
Aku masuk.
Loteng itu lebih gelap dari yang kuingat. Sinar senterku menyapu ruangan, memantul pada debu yang melayang di udara seperti kabut tipis. Udara di sini lebih berat. Pengap. Seolah sudah terlalu lama tidak disentuh manusia.
Aku melangkah masuk sepenuhnya, dan lantai kayu di bawahku mengeluarkan bunyi protes yang pelan. Barang-barang lama masih berada di tempatnya; koper tua di sudut, kardus bertumpuk, kursi patah yang bersandar miring ke dinding. Tapi sekarang semuanya terlihat berbeda. Bukan hanya tua. Lebih… asing. Seolah benda-benda itu tidak lagi sekadar sisa masa lalu, tapi sesuatu yang menyimpan bagian dari cerita yang tidak pernah selesai.
Cahaya senter menciptakan bayangan panjang di lantai dan dinding miring. Bayangan itu bergerak setiap kali tanganku sedikit bergeser, membuat ruangan terasa hidup dengan cara yang tidak nyaman. Aku menelan ludah pelan.
Loteng ini dulu hanya tempat penyimpanan. Tempat barang-barang yang tidak lagi digunakan dikumpulkan dan dilupakan. Sekarang rasanya seperti ruang yang sengaja menyembunyikan sesuatu. Seperti ruang yang menunggu untuk dibuka kembali.
Pandangan mataku akhirnya jatuh ke sudut tempat kami meninggalkan kotak itu. Kotak kayu kecil itu masih ada di sana. Tidak bergeser sedikit pun. Tidak tertutup debu lebih tebal dari yang lain. Seolah-olah ia berdiri terpisah dari semua barang lain di ruangan ini. Seolah-olah ia menunggu. Dan entah kenapa, perasaan itu justru membuatku semakin yakin bahwa aku harus membukanya lagi.
Aku berjongkok di depan kotak itu. Tanganku sudah menyentuh permukaannya, kayu tua yang dingin, sedikit kasar di ujung-ujungnya. Aku menarik napas pelan. Lalu mulai membuka.
“Cepat sekali.”
Suara itu datang dari belakang. Aku berhenti. Tidak langsung menoleh. Hanya diam beberapa detik, membiarkan suara itu menetap di udara.
Lalu aku berdiri perlahan dan menoleh. Bram berdiri di dekat pintu loteng. Tanpa suara. Entah ia sudah berada di sana cukup lama atau hanya menunggu aku menyadarinya.
Aku tidak terkejut berlebihan. Tapi cukup untuk membuat tubuhku sedikit lebih tegang.