Pagi datang tanpa benar-benar mengubah apa pun. Cahaya masuk melalui jendela yang berdebu, tipis dan pucat, seolah kehilangan hangatnya di jalan.
Rumah ini tetap terasa dingin. Bukan karena udara. Tapi karena sesuatu yang tertinggal dari malam sebelumnya.
Aku terbangun lebih cepat dari yang kuinginkan. Bukan karena suara. Tapi karena pikiran yang tidak pernah benar-benar berhenti.
Nama itu muncul lagi.
Berulang.
Potongan dokumen yang kami susun. Tanggal-tanggal yang terlalu dekat dengan satu malam yang seharusnya berdiri sendiri.
Dan suara itu.
Dari bawah.
Aku duduk di tepi tempat tidur sebentar, mencoba menenangkan pikiranku.
Percuma.
Rumah ini tidak lagi terasa seperti properti. Bukan sesuatu yang bisa dihitung, dinilai, lalu diputuskan. Sekarang terasa seperti teka-teki.
Dan lebih buruk, teka-teki yang tidak aman untuk dipecahkan.
Aku keluar ke ruang tamu.
Bram sudah di sana. Duduk di kursi lama, tubuhnya sedikit condong ke depan.
Beberapa dokumen tersebar di meja.
Ia memegang satu lembar, membacanya dengan serius.
Aku berhenti di ambang pintu.
Ia tidak langsung melihatku.
Dan aku tidak langsung menyapanya.
Tidak perlu.
Cara ia memegang kertas itu. Cara ia diam. Sudah cukup menjelaskan satu hal,
kami memikirkan hal yang sama.
Aku mendekat tanpa suara.
Bram tidak mengangkat kepala, tapi tangannya berhenti sebentar, seolah menyadari kehadiranku.
Aku menarik kursi dan duduk di seberangnya.
Tidak ada sapaan.
Tidak perlu.
Aku langsung mengambil beberapa lembar dokumen dari meja. Kertas-kertas itu terasa berbeda di pagi hari. Lebih jelas. Lebih… nyata.
Aku mulai menyusunnya. Tanggal dulu. Lalu nama. Lalu jumlah. Kronologi. Selalu lebih mudah memahami sesuatu jika ada urutan.
Di sisi lain, Bram membaca dengan cara yang berbeda. Lebih lambat. Lebih lama pada satu halaman. Seolah mencari sesuatu di antara kata-kata, bukan hanya di dalamnya.
“Ada yang aneh,” katanya pelan.
Aku tidak menjawab, tapi mataku sudah melihat hal yang sama.
Transaksi.
Berulang.
Nama yang sama muncul di beberapa dokumen. Jumlahnya tidak kecil. Tidak juga konsisten. Kadang besar. Kadang lebih kecil, tapi tetap terlalu sering untuk dianggap biasa.
Aku menarik satu lembar lebih dekat.
Nama itu lagi. Nama yang sama seperti di surat yang kusimpan.
Aku menandai tanggalnya di kepalaku.
Bram menggeser satu dokumen ke tengah.
“Ini bukan sekali dua kali,” katanya.
“Ini seperti… kebiasaan.”
Aku mengangguk pelan.
Kemungkinan mulai terbentuk.
Rekan bisnis.
Seseorang yang bekerja sama dengan mereka. Atau, seseorang yang sengaja disembunyikan.
Aku mulai mencatat pola di kertas kosong. Tanggal. Jumlah. Frekuensi.
Sementara itu, Bram bersandar sedikit, menatap ke arah jendela.
“Ayah pernah berubah,” katanya tiba-tiba. “Beberapa bulan sebelum itu.”
Aku meliriknya.
“Ia jadi lebih sering keluar malam,” lanjutnya. “Ibu juga… berbeda.”
Ia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Aku kembali ke dokumen di tanganku.
Fakta tetap fakta. Tapi sekarang, untuk pertama kalinya, fakta itu mulai terhubung dengan sesuatu yang lebih besar.
Aku menarik satu map tipis dari tumpukan. Warnanya lebih gelap dari yang lain. Kertas di dalamnya lebih tebal. Lebih rapi. Bukan catatan biasa. Lebih seperti sesuatu yang sengaja disimpan.
Aku membukanya pelan. Di dalamnya hanya beberapa lembar. Tapi cukup untuk langsung terasa berbeda. Dokumen resmi. Ada tanda tangan. Ada stempel yang sudah mulai pudar. Dan bahasa yang mencoba terdengar formal, tapi tidak sepenuhnya berhasil.
Aku membaca cepat. Lalu mengulang bagian tertentu. Lebih pelan. Ini bukan sekadar transaksi. Ini perjanjian. Atau setidaknya sesuatu yang ingin terlihat seperti perjanjian.
Beberapa kalimat terasa… dipaksakan. Seperti ada bagian yang tidak pernah ditulis.
Atau sengaja dihilangkan.
Bram mendekat sedikit.
“Apa itu?” tanyanya.
Aku tidak langsung menjawab. Mataku berhenti pada satu baris. Ditulis lebih tegas dari yang lain.
“Ini harus diselesaikan sebelum akhir bulan.”
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada rincian.
Hanya pernyataan.
Tapi cukup untuk terasa seperti tekanan.
Aku melihat tanggal di bagian bawah. Jantungku berdetak sedikit lebih cepat.
Terlalu dekat.
Dengan malam itu.