Rumah Adik Kakak

Andre Sore
Chapter #10

Bab 10

Senja masuk perlahan melalui jendela yang buram. Cahayanya tipis. Pucat. Seolah kelelahan sebelum benar-benar hilang.

Rumah ini kembali sunyi. Tapi bukan sunyi yang biasa. Bukan seperti pagi-pagi sebelumnya. Ada sesuatu yang tertinggal dari siang tadi. Dari suara di pagar. Dari pria yang datang tanpa nama. Dan dari kalimat-kalimat yang tidak pernah benar-benar selesai.

Aku duduk di ruang tamu. Dokumen masih ada di meja, tapi tidak lagi kubuka.

Bram berada di sisi lain ruangan. Bersandar di kursi lama. Melihat ke arah jendela.

Kami berada di tempat yang sama. Tapi tidak benar-benar bersama. Tidak ada percakapan sejak pria itu pergi. Tidak ada usaha untuk memulai.

Setiap kali aku hampir berkata sesuatu—

aku berhenti. Dan sepertinya Bram melakukan hal yang sama. Kami hanya saling melihat sesekali. Cepat. Seolah terlalu lama akan membuka sesuatu yang tidak siap kami hadapi.

Aku menarik napas pelan.

Keheningan ini bukan nyaman. Ini bukan jeda untuk istirahat. Ini seperti tekanan yang belum dilepaskan. Seperti sesuatu yang tertahan di antara kami, dan di dalam rumah ini.

Aku menoleh ke lorong. Gelap mulai masuk dari sana. 

Perlahan.

Diam.

Rumah ini terasa… menunggu. Bukan menunggu kami berbicara. Tapi menunggu sesuatu yang lain terjadi.

Aku akhirnya berdiri. Tidak ada alasan yang jelas. Hanya tidak ingin tetap diam terlalu lama. 

Tanganku mulai merapikan meja. Dokumen-dokumen yang tadi terbuka kususun kembali. Dirapikan. Dijajarkan.

Seolah dengan begitu semuanya bisa terasa lebih… terkendali.

Kertas tetap kertas. Tulisan tetap sama. Tapi setidaknya posisinya bisa kuatur. Itu cukup. Untuk sementara.

Di sisi lain ruangan, Bram bergerak. Ia tidak mendekat ke meja. Tidak menyentuh dokumen. Ia berjalan ke arah dinding, lalu berhenti di dekat jendela. Tangannya menyentuh kusen yang mulai lapuk. Menekannya pelan. Menguji. Lalu ia mengambil sesuatu dari lantai, alat kecil, mungkin obeng lama. Ia mulai mengencangkan sesuatu yang longgar. Gerakannya tenang. Pelan. Seolah ia tahu apa yang ia lakukan. Atau setidaknya ingin terlihat seperti itu.

Aku meliriknya sekilas. Lalu kembali ke meja. Kami sama-sama bergerak. Tapi tidak menuju arah yang sama.

Aku merapikan. Mengatur. Mencoba mengendalikan sesuatu yang masih bisa disentuh.

Bram justru melakukan sebaliknya. Ia menyentuh rumah ini. Memperbaiki. Menyesuaikan diri. Seolah mencoba menjadi bagian dari sesuatu yang tidak pernah benar-benar ia tinggalkan. Tidak ada percakapan. Tidak ada gesekan. Tidak ada yang meledak. Tapi jarak di antara kami terasa lebih jelas sekarang. Lebih nyata daripada sebelumnya.


Kami makan tanpa benar-benar memutuskan untuk makan. Tidak ada ajakan. Tidak ada kesepakatan. Hanya pergerakan yang akhirnya bertemu di meja yang sama.

Piring sederhana. Nasi, lauk seadanya yang kami pesan melalui aplikasi. Tidak ada yang istimewa.

Aku duduk lebih dulu.

Bram menyusul beberapa detik kemudian.

Kami tidak saling melihat saat duduk. Hanya menarik kursi, lalu diam.

Suara sendok menyentuh piring terdengar terlalu jelas. Berulang. Teratur. Hampir seperti pengganti percakapan.

Aku mengambil air. Meneguk sedikit. Meletakkan gelas kembali dengan hati-hati.

Bram melakukan hal yang sama beberapa saat kemudian. Gerakan kami terasa mirip. Tapi tidak pernah bersamaan.

“Ada air lagi di dapur,” kataku akhirnya.

Nada suaraku datar. Lebih seperti informasi daripada percakapan.

Bram mengangguk kecil.

“Ya.”

Hanya itu. Tidak ada lanjutan.

Kami kembali makan. Pelan. Tanpa terburu-buru. Tanpa benar-benar menikmati. Setiap kali ada jeda, rasanya seperti sesuatu seharusnya diucapkan. Tapi tidak ada yang benar-benar keluar. Kalimat-kalimat yang muncul terasa seperti usaha. Dipilih. Ditimbang. Lalu sering kali… ditahan.

Bram sempat membuka mulut. Seolah ingin mengatakan sesuatu. Lalu berhenti.

Aku melihatnya sebentar. Ia kembali menunduk. Aku juga. Kami menyelesaikan makan tanpa benar-benar menyelesaikan apa pun.

Piring menjadi kosong. Tapi meja tetap terasa penuh. Dengan sesuatu yang tidak terlihat. Tidak terucap. Dan justru karena itu, terasa semakin berat.

Setelah makan, kami kembali ke ruang tamu. Piring sudah dipindahkan. Meja sudah bersih. Tapi tidak ada yang benar-benar berubah.

Aku duduk di kursi yang sama seperti sebelumnya. Bram di tempatnya. Jarak di antara kami tetap. Tidak dekat. Tidak jauh. Cukup untuk terasa.

Lihat selengkapnya