Pagi datang tanpa rasa lega. Udara terasa berat. Dingin yang tidak menyegarkan. Halaman masih basah oleh embun. Tanah terlihat lebih gelap, seperti menyimpan sesuatu dari semalam.
Dari luar, suara mulai terasa hidup. Motor lewat. Orang berbicara di gang. Dunia bergerak seperti biasa. Tapi tidak dengan rumah ini.
Aku bangun dengan kepala yang belum benar-benar diam. Kalimat Bram masih tersisa. Selain itu, ada hal lain yang lebih mengganggu.
Pria kemarin. Cara ia berbicara. Cara ia tahu.
Aku keluar ke halaman. Bram sudah di sana. Berdiri dekat pagar. Tangannya menyentuh bagian yang longgar. Ia memeriksanya. Mungkin baginya itu hal paling penting untuk dilakukan pagi ini.
Aku berhenti beberapa langkah dari pintu. Kami berada di tempat yang sama. Di halaman yang sama. Tapi rasanya seperti berdiri di dua sisi yang berbeda. Bukan karena jarak. Tapi karena arah.
Rumah ini tidak lagi hanya tempat. Ini menjadi sesuatu yang membagi kami, tanpa perlu mengatakan apa pun.
Aku melangkah mendekat. Kerikil di bawah kakiku berbunyi pelan. Bram akhirnya menoleh sedikit, lalu kembali ke pagar.
“Masih longgar,” katanya, menekan bagian kayu yang miring.
Aku berdiri di sampingnya.
“Memang sudah lama tidak dipakai,” jawabku singkat.
Ia mengangguk kecil. Beberapa detik kami hanya melihat hal yang sama. Pagar. Kayu tua. Engsel yang berderit.
“Orang kemarin,” kataku akhirnya, “kau kenal?”
Bram menggeleng.
“Tapi dia kenal kita.”
Nada suaranya datar.
Aku menghela napas pelan.
“Kemungkinan cuma orang lama yang terlalu ingin tahu.”
Bram tertawa kecil.
“Kita tidak bisa pura-pura ini normal,” katanya.
Aku menatapnya.
“Apa yang normal menurutmu?” tanyaku.
Ia berbalik sekarang. Menghadapku penuh.
“Dokumen itu. Orang itu. Rumah ini,” katanya. “Semuanya jelas tidak biasa.”
Aku berkata pelan, lebih tegas dari yang terlihat.
“Yang penting sekarang bukan itu.”
Bram mengerutkan kening.
“Lalu apa?”
“Warisan,” kataku. “Kita selesaikan. Secepat mungkin.”
Ia diam sebentar. Lalu menggeleng pelan.
“Kau masih di situ,” katanya.
“Dan kau masih ingin menggali semuanya,” balasku.
Kami saling menatap. Dan pagi itu, perbedaan itu terasa lebih jelas dari sebelumnya.
Bram melepaskan tangannya dari pagar. Ia berbalik penuh sekarang. Menghadapku tanpa jarak yang berarti.
“Kita tidak bisa putuskan ini buru-buru,” katanya. Nada suaranya masih terkontrol. Tapi lebih keras dari sebelumnya.
“Kita tidak punya waktu untuk lambat,” jawabku. “Semakin lama ditunda, semakin banyak masalah.”
“Masalah seperti apa?” tanyanya.
Aku menunjuk ke arah rumah.
“Pajak. Dokumen. Orang luar yang mulai ikut campur.”
Bram menggeleng.
“Atau mungkin justru karena kita tidak tahu apa-apa,” katanya. “Dan kau ingin tetap seperti itu.”
Aku menatapnya.
“Ini bukan soal tahu atau tidak tahu,” kataku. “Ini soal menyelesaikan sesuatu.”
“Bagi siapa?” balasnya cepat.
Pertanyaan itu menggantung. Lebih tajam dari yang seharusnya.
“Aku tidak pernah bilang ini hanya milikku,” lanjutku.
Bram tertawa kecil. Tapi ada sesuatu di dalamnya.
“Kau tidak perlu bilang,” katanya. “Caramu bicara sudah cukup.”
Aku melangkah sedikit lebih dekat.
“Ini rumah kita,” kataku tegas. “Dan seseorang harus membuat keputusan.”