Keesokan harinya pagi datang tanpa suara yang berarti. Lebih sunyi dari biasanya. Seolah rumah ini juga menahan sesuatu. Tidak ada percakapan. Tidak ada sapaan.
Hanya jeda yang panjang sejak kemarin.
Aku berada di dalam. Di ruang tamu. Duduk tanpa benar-benar melakukan apa pun. Dokumen masih di meja. Tidak kusentuh.
Di luar, Bram ada di halaman.
Aku bisa mendengar langkahnya sesekali. Pelan. Tidak terburu-buru. Kami tidak saling mencari. Tidak juga menghindar secara jelas.
Tapi jarak itu tetap ada. Lebih tegas dari sebelumnya.
Aku menyandarkan punggung ke kursi. Menatap ke arah pintu yang terbuka sedikit. Cahaya pagi masuk. Dingin. Tidak menghangatkan. Konflik kemarin belum selesai. Tidak ada yang benar-benar berakhir. Hanya berhenti di tengah. Dan itu justru terasa lebih buruk. Karena sekarang, semuanya masih ada. Masih hidup. Tertahan. Menunggu sesuatu untuk memicunya lagi.
Aku menarik napas pelan. Ada satu hal yang mulai terasa jelas. Ini bukan lagi sesuatu yang bisa diabaikan. Dan semakin lama dibiarkan, semakin berbahaya.
Aku berdiri dan berjalan ke arah pintu. Udara pagi masuk lebih jelas sekarang. Dingin. Sedikit lembap.
Bram masih di halaman. Berdiri dekat pagar. Tapi kali ini ia tidak bergerak. Hanya diam. Menatap sesuatu di bawah.
“Apa?” tanyaku dari ambang pintu.
Ia tidak langsung menjawab. Hanya menunjuk ke tanah.
Aku mendekat. Langkahku melambat.
Di dekat pagar, tanah terlihat sedikit berbeda. Seperti baru terinjak. Tidak dalam. Tapi cukup untuk terlihat. Di sampingnya, ada sesuatu kecil. Puntung rokok. Masih relatif baru.
Aku menatapnya beberapa detik. Lalu ke arah pagar. Sedikit terbuka. Tapi tidak seperti kemarin.
“Semalam?” kataku pelan.
Bram mengangguk kecil.
“Kita tidak keluar,” katanya.
Aku tidak menjawab.
Tidak perlu.
Kami sama-sama tahu artinya. Seseorang datang. Atau setidaknya, seseorang berada di sini. Saat kami di dalam. Tanpa kami sadar.
Aku menatap lagi jejak itu. Lalu ke arah jalan di luar pagar. Sepi. Biasa. Tapi rasanya tidak lagi sama.
Aku melirik Bram. Ia juga melihat ke arah yang sama. Untuk pertama kalinya, kami tidak melihat ini sebagai dua hal berbeda. Kami melihat hal yang sama. Dan itu membuatnya jauh lebih nyata.
Kami tidak langsung bergerak. Tetap berdiri di dekat pagar. Melihat jejak yang sama. Memikirkan hal yang sama.
Bram yang bicara lebih dulu.
“Ini bukan cuma soal kita lagi.”
Nada suaranya tenang. Tidak menekan. Tidak menyindir.
Aku tidak langsung menjawab. Biasanya aku akan membantah. Mengoreksi. Menarik kembali ke hal yang “rasional”. Tapi kali ini, tidak ada yang terasa cukup sederhana untuk dibantah.
Aku menatap ke arah jalan di luar. Kosong. Tapi tidak lagi terasa aman.
“Mungkin,” kataku akhirnya.
Singkat.
Tapi cukup.
Bram melirikku.
Seolah memastikan ia tidak salah dengar.
Aku menghela napas pelan.
“Ada orang yang masuk,” lanjutku. “Atau setidaknya mencoba.”
Tidak ada emosi berlebihan.
Hanya fakta.
Bram mengangguk. Tidak terlihat terkejut. Lebih seperti… menguatkan sesuatu yang sudah ia rasakan.
“Kita tidak tahu siapa,” katanya.
“Dan tidak tahu kenapa,” tambahku.
Kami kembali diam. Tapi bukan seperti sebelumnya. Bukan diam yang memisahkan.
Lebih seperti diam yang sedang menyusun sesuatu. Untuk pertama kalinya, kami tidak berdebat tentang apa yang penting. Kami melihat ancaman yang sama. Dan meski belum sepenuhnya percaya satu sama lain, ego itu, untuk sesaat, turun sedikit.
Suara langkah terdengar dari arah gang. Pelan. Lalu berhenti di depan pagar.
Aku dan Bram menoleh hampir bersamaan.
Seorang pria berdiri di sana. Wajahnya tidak asing.
Kerabat jauh.
Atau setidaknya seseorang yang cukup sering muncul di masa lalu.
“Pagi,” katanya ramah.