Rumah Adik Kakak

Andre Sore
Chapter #13

Bab 13

Pagi datang lebih tenang dari biasanya. Tidak ada suara keras atau sisa emosi seperti kemarin, tapi justru itu yang membuat suasana terasa lebih berat. Rumah ini seolah menahan sesuatu, bukan karena semuanya sudah selesai, tapi karena belum ada yang benar-benar diselesaikan.

Aku sudah duduk di ruang tamu. Dokumen-dokumen masih tergeletak di meja, tersusun rapi seperti kemarin. Tidak ada yang berubah secara fisik, tapi rasanya berbeda. Aku tidak langsung menyentuhnya. Ada jeda kecil, seolah aku sedang menimbang apakah semua ini layak untuk dibuka lebih jauh.

Di seberang ruangan, Bram duduk. Tidak terlalu dekat, tapi juga tidak menjauh. Untuk pertama kalinya, kami berada di ruang yang sama tanpa dorongan untuk pergi atau memulai sesuatu. Keheningan ini bukan lagi sekadar jarak. Lebih seperti kesadaran, bahwa kami ada di titik yang berbeda sekarang.

Aku meliriknya sekilas. Ia tidak menghindar, tapi juga tidak mengatakan apa-apa. Tidak perlu. Kami sudah tahu. Apa yang kemarin terasa seperti dugaan, sekarang sudah jelas. Ada orang luar yang tahu. Ada sesuatu yang mereka cari. Dan ada bagian dari masa lalu yang belum kami pahami.

Pandanganku kembali ke dokumen di meja. Kertas yang sama, tulisan yang sama, tapi sekarang terasa lebih berat. Ini bukan lagi sekadar arsip. Ada pola di dalamnya. Sesuatu yang menghubungkan semuanya, dan mungkin itu yang mulai menarik perhatian orang lain.

Aku menarik napas pelan. Menghindar tidak akan menyelesaikan apa pun. Menunda hanya akan membuat semuanya semakin rumit. Kalau ada satu cara untuk menghadapi ini, maka aku harus memahami semuanya. Tidak setengah-setengah.

Di seberang, Bram berdiri. Gerakannya tenang, tanpa tergesa. Ia tidak bicara, hanya menoleh ke arah tangga menuju loteng.

Aku mengikuti arah pandangnya.

Dan aku langsung mengerti.

Masih ada yang belum kami lihat.

Masih ada yang tersembunyi.

Aku berdiri.

Tidak ada kesepakatan yang diucapkan, tapi keputusan itu sudah ada di antara kami.

Kali ini, kami tidak akan berhenti di tengah.

Kami akan membuka semuanya.


Kami naik tanpa bicara. Tangga kayu berderit di bawah kaki, suaranya masih sama seperti sebelumnya, terlalu keras untuk sesuatu yang seharusnya sederhana. Udara mulai terasa lebih pengap saat kami mendekat ke loteng, seperti ruang di atas sana menyimpan napasnya sendiri.

Aku berjalan lebih dulu, tapi kali ini aku sadar langkah Bram tidak tertinggal jauh di belakang. Tidak ada jeda mencurigakan, tidak ada rasa dia sedang mengawasi atau mencoba mendahuluiku. Hanya… mengikuti. Atau mungkin berjalan bersamaan.

Aneh rasanya.

Dulu, setiap langkah terasa seperti perlombaan diam-diam. Siapa yang lebih dulu menemukan sesuatu. Siapa yang lebih cepat memahami. Siapa yang menang.

Sekarang tidak.

Bukan karena kami sudah sepakat.

Tapi karena fokusnya berubah.

Saat kami sampai di atas, aku mendorong pintu loteng perlahan. Engselnya masih mengeluarkan suara panjang yang kering. Gelap menyambut, disusul cahaya tipis dari bawah yang masuk lewat celah pintu.

Aku menyalakan senter.

Debu masih melayang di udara.

Bau kayu tua dan benda lama masih sama.

Tidak ada yang berubah.

Tapi juga tidak terasa seasing sebelumnya.

Aku melangkah masuk.

Bram menyusul.

Kami tidak saling melihat.

Tidak perlu.

Perhatianku langsung jatuh ke satu titik yang sama seperti sebelumnya.

Kotak kayu itu.

Masih di tempatnya.

Tidak berpindah.

Seolah menunggu.

Aku mendekat, merasakan Bram ikut bergerak di sisiku. Tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk terasa.

Masih ada jarak di antara kami.

Tapi untuk pertama kalinya,  kami tidak lagi bergerak ke arah yang berlawanan.

Aku berjongkok di depan kotak itu dan membukanya perlahan.

Engselnya mengeluarkan bunyi pendek, kering, seperti protes yang sudah terlalu sering diulang. Tutupnya terangkat, memperlihatkan isi yang sama seperti sebelumnya, tumpukan dokumen, kertas-kertas lama, map yang mulai menguning di bagian tepi.

Aku mulai menggeser beberapa lembar.

Lebih hati-hati dari sebelumnya.

Tidak lagi terburu-buru.

Bram ikut mendekat. Ia tidak menyentuh apa pun dulu, hanya mengamati dari samping, seolah mencoba melihat sesuatu yang mungkin terlewat.

Beberapa dokumen kami angkat. Surat resmi. Catatan keuangan. Nama-nama yang sudah mulai terasa familiar.

Lalu Bram berhenti.

“Yang itu,” katanya pelan.

Aku mengikuti arah tangannya.

Lihat selengkapnya