Rumah Adik Kakak

Andre Sore
Chapter #14

Bab 14

Kami tidak langsung turun. Loteng terasa lebih sempit sekarang, seolah udara di dalamnya ikut berubah setelah apa yang kami baca. Tidak ada lagi dorongan untuk mencari sesuatu yang baru. Semua sudah terbuka, atau setidaknya cukup terbuka untuk membuat semuanya terasa berbeda.

Aku masih memegang surat itu. Entah sejak kapan tanganku tidak bergerak. Tulisan di kertas itu rasanya tidak berhenti bekerja di kepalaku. Setiap kalimat seperti memunculkan hal lain, pertanyaan yang tidak selesai, kemungkinan yang belum sempat kupikirkan.

Di sampingku, Bram diam. Ia hanya duduk, menatap ke arah lantai kayu yang berdebu. 

Kupikir menemukan jawaban akan membuat semuanya lebih jelas. Lebih mudah. Setidaknya memberi arah. Tapi ternyata tidak. Kebenaran ini tidak menyelesaikan apa pun.

Justru membuka lebih banyak hal, hal-hal yang sebelumnya tidak perlu kami pikirkan.

Aku akhirnya menutup surat itu. Sekarang aku tahu satu hal. Apa pun yang kami temukan di sini, ini baru awal.


Kami akhirnya turun dari loteng tanpa bicara. Langkah kami bergantian di tangga. Di ruang tamu, aku berhenti. Bram tidak langsung duduk. Ia berdiri beberapa langkah dariku, cukup dekat untuk terasa, tapi tetap menjaga jarak. Aku meliriknya sekilas. Biasanya, di titik seperti ini, aku sudah siap untuk membantah apa pun yang akan ia katakan. Atau setidaknya bersiap menutup percakapan sebelum dimulai. Tapi kali ini tidak. Ada sesuatu yang berubah, bukan pada situasinya, tapi pada cara aku melihatnya. Bram tidak lagi terasa seperti masalah yang harus diselesaikan. Atau hambatan yang harus dilewati. Ia berdiri di sana dengan cara yang berbeda sekarang. Lebih nyata. Lebih… masuk akal.  

Aku duduk, pikiranku tidak benar-benar diam. Bram masih berdiri di seberang, dan aku tidak langsung merasa perlu menjaga jarak darinya. Justru sebaliknya, aku mulai melihatnya dengan cara yang berbeda, seolah semua yang terjadi beberapa hari ini baru sekarang tersusun dengan lebih jelas.

Aku mengingat kembali caranya bereaksi sejak awal. Cara ia mempertahankan rumah ini, bahkan ketika tidak ada yang benar-benar memintanya untuk tetap tinggal. Cara ia menolak menjualnya tanpa penjelasan panjang, seolah ada sesuatu yang lebih penting daripada sekadar nilai atau keputusan praktis. Dulu aku melihat itu sebagai keras kepala. Atau keterikatan yang berlebihan. Sekarang, itu tidak terasa sesederhana itu.

Ia bertahan. Mencoba memahami sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar dijelaskan padaku.

Aku juga ingat bagaimana ia selalu kembali ke masa lalu. Cara ia mengaitkan hal-hal kecil dengan kenangan, cara ia mengingat detail yang selama ini kuanggap tidak penting. Dulu itu terasa seperti kelemahan. Seolah ia tidak bisa move on. Sekarang, mungkin itu satu-satunya cara ia mencoba mengerti. Karena berbeda denganku, ingatan Bram tidak pernah benar-benar pergi dari rumah ini. Ia tetap di sini. Dengan semua yang tersisa.

Aku menatapnya lagi. Ada jeda kecil di dalam pikiranku. Seperti sesuatu yang akhirnya bergeser dari tempatnya. Mungkin selama ini aku terlalu cepat menilai dan menyederhanakan semuanya agar lebih mudah dipahami. Dan mungkin, itu bukan karena aku benar. Tapi karena aku tidak mau melihat lebih jauh.

Aku bisa merasakan Bram memperhatikanku. Bukan seperti sebelumnya, bukan tatapan yang menantang atau menunggu celah untuk membalas. Lebih lama. Lebih diam. Seolah ia sedang mencoba membaca sesuatu yang selama ini tidak pernah benar-benar ia lihat.

Aku tetap menatap ke depan. Tidak mengatakan apa-apa. Biasanya, di titik seperti ini, aku sudah bersiap. Menyusun jawaban. Menjaga nada. Mengantisipasi apa pun yang mungkin ia lemparkan. Kali ini aku tidak melakukannya. Dan itu cukup untuk mengubah segalanya.

“Ada yang berbeda,” katanya akhirnya.

Aku tidak langsung merespons. Ada jeda yang terasa lebih panjang dari seharusnya.

Bram tidak memotongnya. Ia tetap di sana, menunggu tanpa benar-benar memaksa.

“Aku kira kau akan langsung bilang semua ini tidak penting,” lanjutnya pelan. “Atau setidaknya mencoba mengendalikan semuanya lagi.”

Aku menghembuskan napas pelan. Masih tidak menatapnya. Aku tahu apa yang ia lihat. Selama ini aku selalu punya cara untuk menjaga jarak. Untuk tetap terlihat tenang. Terkontrol. Tapi sekarang, itu tidak sepenuhnya bekerja. Dan Bram melihatnya. Ada sesuatu yang kutahan. Sesuatu yang tidak pernah benar-benar kubuka.

“Ada hal yang belum kau bilang,” katanya lagi, lebih pelan sekarang.

Bukan pertanyaan. Lebih seperti kesimpulan.

Aku akhirnya menoleh. Menatapnya. Dan untuk sesaat, aku tidak yakin bisa menyangkalnya.

Kami terdiam beberapa saat setelah itu. Bukan karena tidak ada yang ingin dikatakan, tapi karena masing-masing dari kami sedang menimbang bagaimana harus memulainya. Biasanya percakapan seperti ini akan langsung berubah jadi pertahanan, saling memotong, saling mengunci. Tapi sekarang tidak.

Bram menggeser posisinya sedikit, masih menjaga jarak. Lalu ia bicara.

Lihat selengkapnya