Rumah Adik Kakak

Andre Sore
Chapter #15

Bab 15

Dokumen masih ada di meja, tersusun rapi seperti kemarin. Aku tidak menyentuhnya. Hanya membiarkannya di sana, seolah dengan begitu aku bisa menunda memikirkan semuanya lagi.

Di sisi lain ruangan, Bram berdiri dekat jendela. Ia tidak melihat ke luar. Lebih seperti berdiri di sana karena tidak tahu harus ke mana.

Kami berada di ruang yang sama di pagi berikutnya. Tidak saling menghindar. Tidak juga saling mendekat.

Aneh rasanya. Biasanya, setelah percakapan seperti semalam, salah satu dari kami sudah pergi. Atau setidaknya mencari alasan untuk tidak berada di tempat yang sama terlalu lama.

Tapi sekarang tidak. Kami tetap di sini. Dengan cara yang lebih sadar. Lebih… terjaga.

Aku meliriknya sekilas. Ia tidak bereaksi. Tidak juga mencoba memulai percakapan.

Dan untuk sekali ini, aku tidak merasa perlu untuk mengisinya.

Keheningan ini tidak nyaman. Tapi juga tidak kosong. Ada sesuatu yang berubah. Bukan menjadi lebih baik. Tidak juga lebih mudah. Hanya lebih jujur. Dan justru itu yang membuat semuanya terasa lebih berat. Karena sekarang, tidak ada lagi yang benar-benar bisa kami sembunyikan.


Bram akhirnya bergerak.

Tidak jauh.

Hanya beberapa langkah dari jendela ke arah meja, tempat dokumen-dokumen itu masih tergeletak. Ia tidak langsung menyentuhnya. Hanya berdiri di sana, menatap kertas-kertas itu seolah mencoba melihat sesuatu di baliknya.

Aku memperhatikannya tanpa terlihat seperti memperhatikan. Ada jeda yang cukup panjang.

Lalu ia bicara.

“Kalau ini semua selesai…” suaranya tenang, tidak tergesa, “…kau benar-benar mau jual rumah ini?”

Aku tidak langsung menjawab. Pertanyaannya sederhana. Terlalu sederhana. Tapi membuatnya terasa berat.

Aku mengalihkan pandangan ke arah meja, mengikuti arah pikirannya. Dokumen, surat, semua yang kami temukan, semuanya seperti mengarah ke sesuatu yang lebih besar dari sekadar keputusan praktis.

Ini bukan lagi soal menjual atau tidak. Bukan soal angka atau kemudahan. Ada sesuatu di baliknya. Cara melihat. Cara memilih.

Aku menarik napas pelan. Pertanyaan itu tidak terdengar seperti tantangan. Tidak juga seperti protes. Lebih seperti garis yang akhirnya ditarik dengan jelas.

Dan aku tahu, apa pun jawabanku nanti, itu tidak hanya tentang rumah ini.

Aku menghembuskan napas pelan sebelum akhirnya menjawab.

“Kalau semua ini benar,” kataku, menunjuk sekilas ke arah dokumen di meja, “rumah ini bukan cuma tempat. Ini sumber masalah.”

Suaraku tetap datar. Terukur.

“Orang luar sudah mulai datang. Mereka tahu sesuatu. Dan selama semua ini masih ada di sini…” aku berhenti sejenak, “…itu tidak akan berhenti.”

Aku tidak menatapnya saat bicara. Lebih mudah seperti itu.

“Menjualnya bukan soal lari,” lanjutku. “Ini soal menutup sesuatu yang seharusnya tidak pernah terbuka.”

Aku akhirnya melirik ke arahnya.

Bram tidak langsung menjawab. Ia menatap rumah ini; dinding, lantai, ruang yang kami tempati, seolah melihat sesuatu yang tidak bisa kulihat dengan cara yang sama.

“Buatmu ini cuma masalah yang harus diselesaikan,” katanya pelan.

Bukan tuduhan.

Lebih seperti pengamatan.

Aku tidak menyangkal. Bagiku, itu memang begitu.

Bram berjalan pelan, tangannya menyentuh sandaran kursi, lalu berhenti.

“Buatku…” ia menarik napas sebentar, “ini satu-satunya yang tersisa.”

Kalimat itu tidak keras. Tapi terasa lebih berat dari apa pun yang kukatakan.

Aku diam.

Ia melanjutkan, matanya masih tidak benar-benar ke arahku.

“Semua yang lain sudah berubah. Sudah hilang. Tapi tempat ini…” ia berhenti sejenak, “…ini yang masih ada.”

Lihat selengkapnya