Rumah Adik Kakak

Andre Sore
Chapter #16

Bab 16

Langit sudah berubah sejak sore. Bukan gelap sepenuhnya, tapi cukup untuk membuat cahaya terasa tertahan. Warna di luar jendela tampak kusam, seperti dilapisi sesuatu yang tidak terlihat. Udara di dalam rumah ikut berubah, lebih berat, lebih lembap, menempel di kulit tanpa benar-benar terasa dingin.

Aku berdiri di dekat jendela, memperhatikan pergerakan yang hampir tidak ada. Pohon di halaman sesekali bergoyang pelan, daunnya berdesis tipis saat angin mulai lewat. Tidak kencang, tapi cukup untuk terasa.

Rumah ini menangkap semuanya. Setiap perubahan kecil di luar seperti ikut masuk ke dalam, meresap ke dinding, ke lantai, ke udara yang kami hirup.

Aku menarik napas pelan.

Ada sesuatu yang familiar dari suasana ini. Bukan karena aku benar-benar mengingatnya dengan jelas, tapi karena tubuhku seolah mengenali pola yang sama, ketegangan yang datang sebelum sesuatu terjadi.

Aku tidak langsung menjauh dari jendela. Justru tetap di sana, memperhatikan langit yang semakin menebal.

Di belakangku, rumah tetap diam. Terlalu diam. Seolah menunggu. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi malam ini. Tapi ada satu hal yang terasa jelas, ini bukan sekadar perubahan cuaca. Ada sesuatu yang sedang bergerak menuju ke sini. Dan entah kenapa, rasanya kami tidak benar-benar siap.


Hujan turun. Awalnya hanya suara tipis, hampir seperti gesekan halus di atas atap. Aku sempat mengira itu hanya angin. Tapi beberapa detik kemudian, ritmenya berubah. Lebih rapat. Lebih pasti. Rintik pertama. Lalu semakin banyak. Dalam waktu singkat, suara itu memenuhi seluruh rumah.

Air menghantam atap dengan pola yang tidak teratur, kadang pelan, kadang tiba-tiba lebih keras, seperti sesuatu yang dipaksakan dari atas. Angin ikut masuk lewat celah-celah jendela, membawa hawa dingin yang bercampur dengan bau tanah basah.

Aku menoleh sedikit.

Bram masih di dalam, tidak jauh dariku. Ia tidak bergerak banyak, hanya berdiri dengan bahu sedikit tegang, mendengarkan. Kami tidak bicara. Bukan karena tidak bisa. Tapi karena suara hujan mulai mengambil alih. Setiap kata akan tenggelam sebelum benar-benar sampai.

Aku melangkah menjauh dari jendela, tapi suaranya tetap mengikuti. Memantul di dinding, turun ke lantai, memenuhi ruang-ruang yang sebelumnya terasa kosong.

Rumah ini tidak lagi diam. Ia merespons. Setiap tetes air yang jatuh terasa seperti memanggil sesuatu yang sudah lama ada di sini, sesuatu yang tidak benar-benar hilang, hanya menunggu.

Angin bertiup lebih kuat. Jendela bergetar pelan. Malam itu, aku merasa rumah ini bukan sekadar tempat berlindung. Tapi sesuatu yang ikut hidup bersama hujan di luar.

Awalnya hanya satu tetes. Hampir tidak terdengar di tengah suara hujan yang semakin deras. Tapi setelah beberapa detik, bunyi itu muncul lagi, jatuh di titik yang sama, dengan ritme yang mulai terasa jelas.

Aku menoleh ke atas.

Langit-langit tampak biasa saja. Tapi kemudian satu titik kecil mulai menggelap. Dan tetesan berikutnya jatuh. Lalu lagi. Suara itu berubah menjadi pola yang tidak bisa diabaikan.

Bram bergerak lebih dulu. Tanpa banyak bicara, ia berjalan cepat ke sudut ruangan, mengambil ember yang sebelumnya terbalik di dekat dinding. Ia meletakkannya tepat di bawah titik bocor, menyesuaikan posisinya beberapa kali sampai tetesan air jatuh pas ke tengah.

Plastik ember bergetar pelan setiap kali air mengenainya.

Aku berdiri di tempat, memperhatikan. Tidak membantu. Tidak juga menghalangi. Hanya melihat.

Bram tidak berhenti di situ. Ia menoleh ke sekitar, mencari kemungkinan titik lain. Benar saja, di dekat jendela, ada satu garis tipis air yang mulai merambat turun ke dinding, membentuk jejak yang semakin jelas.

“Ambil kain,” katanya singkat.

Aku bergerak kali ini, tanpa banyak berpikir. Mengambil lap yang tergeletak di meja, lalu meletakkannya di lantai yang mulai basah. Air meresap cepat. Terlalu cepat.

Lihat selengkapnya