Pagi berikutnya udara di dalam rumah masih lembap, menempel di dinding dan lantai seperti sisa sesuatu yang belum selesai. Bau air hujan belum hilang, bercampur dengan kayu basah dan kain yang semalam dipakai menahan bocor.
Aku berdiri di ambang ruang tamu.
Ember masih ada di tempatnya. Setengah penuh.
Air di dalamnya diam, tapi jejak semalam masih terasa jelas dari cara ia berada di sana, seperti bukti yang tidak bisa dihapus begitu saja.
Di beberapa bagian lantai, masih ada genangan tipis. Tidak banyak, tapi cukup untuk membuat langkah harus lebih hati-hati. Dinding di dekat jendela terlihat lebih gelap, menyimpan bekas aliran air yang sempat merambat turun.
Rumah ini belum pulih. Atau mungkin memang tidak pernah benar-benar pulih.
Di sisi lain ruangan, Bram sudah bergerak.
Ia menyingkirkan ember, mengosongkannya ke luar, lalu kembali dengan kain kering. Gerakannya tenang, teratur, seolah ini bukan hal baru baginya.
Aku memperhatikannya sejenak. Ada sesuatu yang berbeda dari cara aku melihat semua ini sekarang.
Semalam tidak mengubah keadaan. Rumah ini masih sama. Masalahnya juga masih ada.
Tapi cara aku memahaminya… tidak lagi sama.
Aku menarik napas pelan.
Malam itu tidak menyelesaikan apa pun. Ia hanya membuka sesuatu yang sebelumnya tidak pernah benar-benar kulihat. Dan sekarang, aku tidak bisa lagi kembali ke cara lama.
Ketukan di pintu datang saat aku masih berdiri di ruang tamu.
Bram berhenti sejenak dari pekerjaannya, menoleh ke arah pintu. Kami saling bertukar pandang singkat, tidak ada pertanyaan, tapi cukup untuk tahu bahwa kedatangan ini bukan kebetulan.
Aku yang mendekat lebih dulu.
Pintu terbuka pelan.
Seorang pria berdiri di luar, berpakaian rapi. Kemejanya bersih, nyaris tanpa lipatan, sepatu mengilap meski halaman masih basah oleh sisa hujan. Di tangannya ada map tipis, dijepit dengan cara yang terlalu teratur untuk sekadar kunjungan biasa.
“Selamat pagi,” katanya.
Nada suaranya sopan. Terukur. Tapi ada jarak di dalamnya, sesuatu yang tidak sepenuhnya hangat.
“Saya datang mewakili urusan keluarga,” lanjutnya, sedikit mengangkat map di tangannya.
Aku mengangguk pelan, memberi jalan.
Saat ia melangkah masuk, kontras itu langsung terasa. Lantainya masih sedikit basah. Udara di dalam masih lembap. Beberapa bagian rumah jelas menunjukkan sisa semalam. Tapi pria itu tetap bergerak dengan cara yang sama, rapi, terkendali, seolah kondisi rumah ini tidak benar-benar menyentuhnya.
Bram berdiri di sisi ruangan, memperhatikan tanpa mendekat.
Pengacara itu berhenti di tengah, menatap sekeliling sebentar. Bukan dengan rasa ingin tahu. Lebih seperti mencatat. Lalu kembali ke kami.
“Saya rasa,” katanya, membuka map dengan gerakan yang efisien, “sudah waktunya kita membicarakan keputusan yang tertunda.”
Aku tidak langsung menjawab.
Tapi dari cara ia berdiri, dari cara ia memulai, aku tahu satu hal. Ini bukan kunjungan biasa.
Pengacara itu tidak membuang waktu. Ia membuka map di tangannya, mengeluarkan beberapa lembar dokumen, lalu meletakkannya di atas meja yang masih sedikit lembap. Kertas-kertas itu tampak kontras, bersih, rapi, tidak tersentuh oleh kekacauan yang ada di sekelilingnya.
“Ada beberapa hal yang perlu segera diputuskan,” katanya.
Nada suaranya tetap tenang, tapi lebih tegas sekarang.
Aku berdiri di dekat meja.
Bram tetap di tempatnya.
“Proses administrasi sudah berjalan cukup lama,” lanjutnya. “Dan saat ini, kita sudah sampai pada batas waktu yang tidak bisa lagi ditunda.”
Ia menunjuk salah satu dokumen.
“Status kepemilikan harus ditentukan. Apakah akan dijual, dialihkan, atau dipertahankan, itu harus diputuskan sekarang.”
Aku menyilangkan tangan tanpa sadar.
“Kalau belum ada keputusan?” tanyaku.
Ia menatapku langsung.
Untuk pertama kalinya, ekspresinya sedikit berubah, bukan emosi, tapi penekanan.
“Jika tidak ada kesepakatan,” katanya perlahan, “proses akan berjalan tanpa keputusan kalian.”
Kalimat itu jatuh begitu saja.