Rumah Adik Kakak

Andre Sore
Chapter #18

Bab 18

Pintu tertutup pelan di belakang pengacara itu. Suara kliknya kecil, tapi cukup untuk menandai sesuatu yang selesai, atau justru baru dimulai.

Ruangan kembali sunyi. Udara terasa lebih padat sekarang, seolah kata-kata yang baru saja diucapkan masih tertinggal di dalamnya. Dokumen di meja tetap di tempatnya, tidak berubah, tapi rasanya berbeda. Lebih berat. Lebih mendesak.

Aku tidak melakukan apa-apa. Bram juga tidak. Kami berdiri di posisi masing-masing, dengan jarak yang tidak jauh, tapi cukup untuk terasa. Tidak ada yang langsung bicara. Tidak ada yang mencoba mengisi jeda. Karena kami tahu, apa pun yang akan dikatakan setelah ini tidak akan ringan.

Aku menatap ke arah meja. Lalu ke arah pintu yang sudah tertutup. Lalu kembali lagi. Semua yang tadi datang dari luar, batas waktu, tekanan, pihak lain, sekarang tidak lagi berada di ruangan ini. Tapi dampaknya masih ada. Dan justru terasa lebih dekat.

Aku menarik napas pelan. Selama ini, kami bisa menyalahkan sesuatu di luar keadaan ataupun masa lalu. Orang lain. Sekarang tidak. Sekarang yang tersisa hanya kami berdua. Dan keputusan yang tidak bisa lagi dihindari.

Aku melirik Bram. Ia masih diam, tapi rahangnya sedikit mengeras. Aku tahu tanda itu. Tekanan itu tidak hilang. Hanya berpindah. Dari luar, ke dalam.

Bram berjalan mendekat ke meja. Tapi dari cara ia melakukannya, jelas, ia tidak lagi menahan diri seperti sebelumnya.

“Jadi?” katanya.

Suaranya datar, tapi ada tekanan yang tidak disembunyikan.

Aku menoleh ke arahnya.

Ia tidak menunggu lama.

“Kau akan langsung tanda tangan?”

Aku menarik napas pelan sebelum menjawab.

“Kalau itu memang satu-satunya cara supaya ini selesai… ya aku akan tanda tangan.”

Jawabanku tanpa usaha meredam.

Bram tersenyum tipis. Bukan karena setuju. Lebih seperti reaksi terhadap sesuatu yang sudah ia duga.

“Cepat sekali,” katanya.

Ada nada getir di sana.

“Ini bukan soal cepat, Bram,” balasku. “Ini soal jelas.”

“Jelas buat siapa?” ia langsung memotong.

Nada suaranya naik sedikit sekarang.

Aku menatapnya.

“Buat situasi ini,” kataku. “Kita tidak punya banyak waktu.”

Ia menggeleng pelan, lalu tertawa pendek tanpa humor.

“Selalu begitu,” katanya. “Begitu ada tekanan, kau langsung cari jalan keluar paling cepat.”

Aku mengerutkan kening.

“Itu bukan lari,” kataku. “Itu menyelesaikan.”

“Dengan cara menghilangkan semuanya?” balasnya.

Kalimat itu langsung memicu sesuatu.

Aku melangkah sedikit lebih dekat tanpa sadar.

“Dengan cara mengakhiri sesuatu yang sudah terlalu lama dibiarkan,” kataku.

Sekarang nada kami sama-sama berubah.

Lebih keras. Lebih tajam. Dan seperti sebelumnya, tidak butuh waktu lama sebelum percakapan ini kembali ke tempat yang sama. Konflik yang tidak pernah benar-benar hilang. Hanya sempat diam sebentar, sebelum muncul lagi.

“Realistis, heh?” Bram mengulang.

Nada suaranya naik, tidak lagi berusaha ditahan.

“Itu yang kau sebut ini menutup semuanya sebelum benar-benar mengerti?”

“Apa lagi yang perlu dimengerti?” potongku cepat. “Kita sudah tahu cukup. Ada tekanan, ada pihak luar, ada batas waktu. Itu fakta.”

“Dan kau langsung menyerah pada itu?”

“Aku tidak menyerah,” kataku tajam. “Aku membaca situasi.”

Bram tertawa pendek, kali ini lebih keras.

“Kau selalu begitu,” katanya. “Selalu pilih jalan paling mudah.”

Kalimat itu langsung mengenai.

Lihat selengkapnya