Rumah ini belum benar-benar kembali seperti semula. Dan mungkin memang tidak akan.
Aku berdiri di dapur, menuangkan air ke dalam gelas. Suaranya kecil, cukup untuk mengisi ruang tanpa membuatnya terasa penuh. Di ruang tamu, Bram sudah bangun. Ia duduk di kursi, membalik beberapa kertas yang kemarin ditinggalkan di meja.
Kami berada di ruang yang sama. Jarak di antara kami tidak lagi terasa seperti penolakan, tapi seperti sesuatu yang disepakati tanpa perlu dibicarakan.
Aku meliriknya sebentar. Ia tidak terlihat tegang. Tidak juga santai. Lebih seperti… siap.
Dan untuk pertama kalinya, aku merasakan hal yang sama. Tidak ada dorongan untuk menyerang. Tidak ada kebutuhan untuk membela diri sebelum diserang. Hanya kesadaran bahwa apa pun yang akan terjadi setelah ini, harus dihadapi dengan cara yang berbeda.
Aku duduk di kursi yang berseberangan. Rumah ini masih menyimpan sisa konflik. Itu terasa di seluruh bagian. Di dinding. Di benda-benda. Di cara kami bergerak. Tapi ada sesuatu yang berubah. Bukan karena masalahnya hilang. Tapi karena cara kami melihatnya… mulai bergeser.
Aku menaruh gelas di meja. Suara kecilnya cukup untuk menarik perhatian, tapi tidak mengganggu.
Bram mengangkat pandangan sebentar, lalu kembali ke kertas di tangannya.
“Atapnya perlu diperbaiki,” kataku.
Nada suaraku datar. Tidak mendesak. Hanya menyebutkan apa yang terlihat.
Bram mengangguk pelan.
“Iya. Kalau hujan lagi, bakal lebih parah.”
Tidak ada tambahan ataupun nada sindiran. Hanya fakta.
Aku menarik kursi sedikit lebih dekat ke meja, tapi tetap menjaga jarak.
“Kita juga harus cek bagian belakang,” lanjutku. “Dindingnya mulai lembap.”
Bram menaruh kertasnya.
“Kemarin aku lihat ada retakan kecil di dekat jendela,” katanya. “Belum besar, tapi bisa jadi masalah.”
Aku mengangguk. Percakapan berjalan pelan dan teratur. Topiknya sederhana; perbaikan, kondisi rumah, hal-hal yang bisa disentuh dan dilihat. Tidak ada yang mencoba membawa pembicaraan ke arah lain.
Kami memilih tetap di permukaan. Bukan untuk menghindar. Tapi untuk memberi ruang. Menguji apakah kami bisa bicara tanpa harus saling menyerang. Dan, sepertinya itu berhasil.
Percakapan itu sempat berhenti dengan sendirinya. Bukan karena canggung. Lebih karena tidak ada lagi hal kecil yang perlu dibahas.
Bram menggeser kertas di depannya, merapikannya tanpa benar-benar melihat. Lalu ia berhenti, tangannya masih di atas meja.
“Kalau kita harus memutuskan…” katanya akhirnya. Suaranya pelan.
Aku menatapnya.
Ia tidak langsung melanjutkan, seolah memberi ruang kalau aku ingin memotong. Tapi aku tidak.
“Dengan semua yang tadi dikatakan,” lanjutnya, “tentang batas waktu… dan pihak luar itu.”
Ia berhenti lagi sebentar. Mencari kata yang tepat, bukan untuk menyerang, tapi untuk menjaga arah.
“Kita tidak bisa diam saja.”
Aku mengangguk kecil. Tidak ada dorongan untuk membantah. Karena yang ia katakan memang benar.
Aku menyandarkan punggung ke kursi.
“Status rumah ini harus jelas,” kataku. “Kalau tidak, orang lain yang akan menentukan.”
Bram mengangguk.
“Kita juga belum tahu siapa sebenarnya yang tertarik itu,” katanya. “Dan kenapa.”