Rumah Adik Kakak

Andre Sore
Chapter #20

Bab 20

Hari itu Pengacara Pradana datang lagi, kali ini bersama paman yang tempo hari sempat datang ke rumah ini. Pak Darto. Mereka seolah datang dengan asumsi bahwa tidak ada yang benar-benar berubah di dalam rumah ini, bahwa kami masih berada di posisi lama yang mudah dibaca dan mudah diarahkan.

Aku berdiri lebih dulu di dekat meja, tapi kali ini Bram tidak mengambil jarak seperti biasanya. Ia tetap di sampingku, cukup dekat tanpa terasa dipaksakan. Kami tidak saling memberi isyarat, tidak juga memastikan posisi satu sama lain, tapi entah bagaimana kami tetap berada dalam satu garis yang sama. Tidak berseberangan. Tidak memberi ruang di antara kami untuk dimasuki orang lain.

Pak Darto sempat melambat saat melihat kami. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk menunjukkan bahwa ada sesuatu yang tidak sesuai dengan ekspektasi mereka. 

Pengacara itu juga menangkap hal yang sama, terlihat dari caranya menahan gerakan membuka map, seolah perlu menyesuaikan ulang pendekatan yang sudah ia siapkan.

Kami tidak mengatakan apa pun untuk menegaskan perubahan itu. Tidak perlu. Karena dari cara kami berdiri, dari cara kami tidak saling mendahului atau mengoreksi, sudah terlihat jelas bahwa dinamika ini tidak lagi sama. Apa yang sebelumnya terpecah kini mulai menyatu, dan untuk pertama kalinya, pihak luar itu harus berhadapan bukan dengan dua arah yang berbeda, melainkan dengan satu posisi yang lebih sulit digoyahkan.

Pak Darto yang lebih dulu membuka percakapan. Nada suaranya tetap halus, hampir seperti percakapan biasa, tapi ada sesuatu di balik pilihan katanya, terlalu terarah untuk sekadar basa-basi.

“Kami senang melihat kalian berdua di sini,” katanya, matanya bergantian menatapku dan Bram. “Setidaknya sekarang semua bisa dibicarakan dengan lebih… jelas.”

Ia berhenti sebentar, memberi ruang yang terasa disengaja.

“Karena keputusan seperti ini,” lanjutnya, “tidak bisa ditunda terus. Apalagi kalau ada yang masih ragu.”

Kalimat itu terdengar ringan. Hampir seperti saran. Tapi arahnya jelas.

Ia tidak menyebut siapa. Tidak menunjuk secara langsung. Cukup untuk menarik garis yang lama, garis yang memisahkan kami menjadi dua sisi.

Aku tidak bereaksi.

Bram juga tidak.

Pak Darto melanjutkan, kali ini sedikit lebih terbuka.

“Dari awal sudah terlihat siapa yang lebih siap menghadapi situasi ini,” katanya. “Dan siapa yang… masih terbebani hal-hal lama.”

Nada suaranya tetap tenang. Tapi kata-katanya mulai menyentuh sesuatu yang lebih dalam. Luka yang pernah kami bicarakan. Dan yang lebih sering kami gunakan sebagai senjata. Ia tahu itu. Dan ia menggunakannya dengan hati-hati. Cukup untuk memancing.

Aku diam beberapa saat sebelum menjawab.

Kalimat itu masih menggantung, sengaja dibiarkan seperti umpan yang menunggu ditarik. Dulu, aku mungkin sudah bereaksi, menjelaskan, membela, atau bahkan menyerang balik tanpa benar-benar berpikir. Sekarang tidak.

Aku menarik napas pelan, memberi jeda yang cukup sebelum bicara.

“Kami sudah mempertimbangkan itu,” kataku akhirnya. Nadaku tetap rata, tanpa nada menantang. “Dan justru karena itu, kami tidak ingin mengambil keputusan terburu-buru.”

Tidak ada penekanan berlebihan. Dan Bram tidak langsung masuk dalam pembicaraan. Ia menunggu sampai aku selesai, lalu menambahkan dengan tenang.

“Kami juga ingin memahami siapa saja yang terlibat,” katanya. “Dan kenapa ada pihak lain yang tiba-tiba berkepentingan.”

Nada suaranya stabil dan tidak emosional seperti sebelumnya.

Pak Darto sempat terdiam sebentar, mungkin menyesuaikan kembali arah percakapan yang tidak bergerak seperti yang ia harapkan.

Aku melanjutkan.

Lihat selengkapnya