Aku kembali duduk di meja. Bram langsung menarik kursi di seberangku, membawa beberapa dokumen yang sudah kami lihat berkali-kali sebelumnya. Kertas-kertas itu masih sama, tidak lebih sederhana. Tapi cara kami melihatnya sekarang berbeda.
Aku membuka salah satunya.
Bram bersandar sedikit, matanya mengikuti tanpa terburu-buru.
“Kita mulai dari yang ini?” tanyanya.
Aku mengangguk.
Hari ini tidak terasa seperti hari untuk mencari jawaban baru. Semua yang perlu diketahui sudah ada di meja ini, dalam bentuk yang mungkin tidak pernah benar-benar lengkap. Tapi cukup.
Yang berbeda sekarang bukan informasinya. Melainkan keputusan untuk berhenti berputar di hal yang sama.
Aku menatap dokumen itu sekali lagi, lalu mengangkat pandangan ke arah Bram.
Sekarang rasanya jelas, hari ini bukan tentang memahami semuanya. Bukan juga tentang memperbaiki masa lalu. Hari ini tentang satu hal yang lebih sederhana. Memilih. Dan menerima apa pun yang datang setelahnya.
Aku menggeser satu dokumen ke tengah meja.
“Kita mulai dari rumah,” kataku.
Bram mengangguk, matanya langsung turun ke halaman yang sama.
“Kita tidak jual sekarang,” lanjutku. “Tapi kita juga tidak menahannya tanpa arah.”
Ia mengangkat pandangan sedikit, menunggu.
“Kita pertahankan dulu,” kataku, “sambil kita selesaikan semua yang belum jelas. Setelah itu… kita putuskan lagi, dengan kondisi yang lebih lengkap.”
Bram berpikir sejenak. Lalu mengangguk.
“Berarti kita bagi tanggung jawabnya juga,” katanya. “Perawatan, dokumen, semua.”
“Iya.” Aku menyetujui perkataan Bram.
“Kau urus bagian legal,” katanya. “Kau lebih terbiasa.”
Aku mengangguk lagi.
“Kau bagian rumahnya,” balasku. “Perbaikan, kondisi, semua yang fisik.”
Bram tidak membantah dan tidak merasa dibebani. Ia menerima sebagai bagian dari sesuatu yang memang harus dilakukan.
Kami beralih ke dokumen lain. Aset yang dulu terasa rumit sekarang hanya angka dan pembagian yang perlu disepakati. Kami membacanya, mendiskusikannya sebentar, lalu menentukan tanpa perlu mengulang hal yang sama berkali-kali.
Hal-hal yang dulu memecah kami, rumah, tanggung jawab, warisan, sekarang berada di meja yang sama, diperlakukan sebagai sesuatu yang bisa diselesaikan. Dan tanpa benar-benar kami sadari, semuanya selesai dengan cara yang jauh lebih sederhana dari yang pernah kami bayangkan.
Kami berhenti sejenak setelah dokumen terakhir ditutup. Bram menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap langit-langit sebentar sebelum menghela napas pendek.
“Jadi,” katanya akhirnya, suaranya ringan, “kita hampir berantem habis-habisan cuma buat ini?”