Aroma kertas lembaran kontrak berpadu dengan dinginnya pendingin udara di kantor wedding organizer itu terasa begitu mencekik. Andrew duduk kaku di atas kursi kulit berwarna cokelat tua, memperhatikan seorang wanita muda di seberang meja yang sibuk mencoret beberapa baris tulisan di atas kertas formulir. Setiap coretan tinta merah dari pena wanita itu seolah-olah menjadi pukulan palu yang menegaskan bahwa seluruh rencananya telah hancur berkeping-keping.
"Pak Andrew, untuk deposit gedung dan dekorasi memang tidak bisa dikembalikan sesuai klausul pembatalan H-3," tutur staf wanita itu dengan nada suara yang sangat pelan, penuh kehati-hatian dan simpati yang justru membuat telinga Andrew terasa panas. "Tetapi untuk katering, karena sebagian bahan belum diproses, kami berhasil mengalihkan porsinya ke acara klien lain. Sisa dana yang bisa diselamatkan akan ditransfer ke rekening Bapak maksimal akhir minggu ini."
"Nggak apa-apa, Mbak. Terima kasih banyak sudah bantu mengurus semuanya di saat mendadak seperti ini," jawab Andrew singkat.
Suaranya terdengar datar dan dingin, tanpa intonasi emosi sama sekali. Seakan-akan yang baru saja dia batalkan adalah pesanan barang elektronik secara daring, bukan sebuah pernikahan yang telah dia persiapkan bersama sang kekasih selama hampir dua tahun.
Andrew menerima salinan dokumen pembatalan tersebut, menandatanganinya di kolom bagian bawah dengan jemari yang diusahakan tetap stabil, lalu menyimpannya ke dalam amplop cokelat. Begitu pena ditarik kembali dari atas kertas, selesai sudah. Tidak ada lagi janji suci di akhir pekan, tidak ada lagi gaun pengantin putih yang terpasang anggun di patung pameran, dan tidak ada lagi masa depan yang pernah dia bayangkan dengan begitu indah.
Langkah kaki Andrew membawanya keluar menuju area parkir yang terik. Udara Jakarta siang itu terasa sangat menyengat, menyapu wajahnya dengan hawa panas dan polusi yang pekat. Andrew masuk ke dalam mobil SUV miliknya, meletakkan amplop cokelat di kursi penumpang, lalu bersandar pada kemudi. Dia menatap lurus ke arah kaca depan yang berdebu.
Bayangan peristiwa tiga hari lalu mendadak berputar kembali di kepalanya seperti pita kaset rusak yang diputar berulang-ulang. Malam itu, di sebuah kafe yang cukup sepi, tempat yang biasa mereka datangi setiap akhir pekan, mantan tunangannya duduk di depannya dengan mata yang tak berani menatap langsung.
"Aku nggak bisa lanjutin ini, Ndra," ucapan wanita itu kembali bergema di benak Andrew. "Semakin dekat hari H, aku makin sadar kalau aku belum selesai sama masa laluku. Aku masih sering mikirin dia... dan aku merasa hubungan kita cuma rutinitas yang nyaman, bukan cinta. Kamu terlalu datar, Ndra. Kamu terlalu cepat puas sama hidup yang begini-begini saja, sedangkan aku butuh seseorang yang punya ambisi besar. Aku minta maaf."
Kata-kata itu tidak diucapkan dengan nada marah atau teriakan. Justru karena diucapkan dengan tenang dan penuh rasa bersalah, setiap suku katanya terasa seperti bilah pisau tumpul yang menghantam dada Andrew berkali-kali. Terlalu datar. Terlalu membosankan. Tidak pernah cukup baik. Label-label itu seketika melekat erat di kepalanya, merobek seluruh harga diri dan rasa percaya diri yang selama 30 tahun ini dia bangun dengan susah payah.
Andrew tidak membalas dengan amarah malam itu. Dia hanya mengangguk pelan, merapikan cangkir kopinya, lalu berdiri dan berjalan pergi. Namun, di dalam dirinya, ada sesuatu yang patah dan tak bisa disatukan kembali.
Setelah mengembalikan jas pengantin ke butik—sebuah proses yang diwarnai tatapan kasihan dari para staf yang mengenalnya—Andrew pulang ke apartemennya di daerah Jakarta Selatan. Ruang apartemen tipe dua kamar itu terasa terlampau luas dan sunyi. Kotak-kotak kardus yang tadinya disiapkan untuk mengemas barang-barang persiapan pindah setelah menikah kini menumpuk di sudut ruangan seperti monumen kegagalan.