Rincian transaksi di layar laptop empat belas inci itu tidak pernah berbohong. Sonia menggeser kursor pelan-pelan, menelusuri baris demi baris angka berformat lembar sebar yang tadinya tersembunyi di balik nama folder samar. Bukan rahasia romantis atau pesan mesra dari wanita lain yang dia temukan di sana, melainkan sesuatu yang jauh lebih dingin dan merusak: deretan pinjaman atas nama pribadi, tanda tangan palsu pada berkas jaminan, dan tagihan kartu kredit beruntun yang selama ini disamarkan sebagai investasi masa depan bersama.
Dua minggu sebelum hari pernikahan yang sudah dipersiapkan hampir setahun, seluruh konstruksi hubungan itu runtuh bukan dengan jeritan atau pertengkaran hebat, melainkan lewat keheningan sebuah kamar sewa di Jakarta Barat. Saat dikonfirmasi, calon suaminya tidak membantah. Pria itu hanya duduk di tepi tempat tidur, menunduk, lalu menyalahkan keadaan ekonomi dan tekanan sosial dengan nada defensif yang justru mematikan sisa rasa simpati Sonia.
"Kamu terlalu perhitungan, Nia. Ini semua kan buat modal kita nanti," kalimat itu terngiang kembali saat Sonia memutar kunci kontak mobil rental yang disewanya. Kalimat yang disusul oleh cecaran keluarga besarnya sendiri, yang merasa keputusan Sonia membatalkan pernikahan di detik-detik terakhir adalah tindakan impulsif yang memalu keluarga. Bagi mereka, masalah uang bisa diselesaikan; nama baik dan gengsi acara di gedung pertemuan mewah jauh lebih utama.
Sonia memilih pergi dari lingkaran sesak itu.
Perjalanan menanjak menuju kawasan Lembah Danau memakan waktu hampir enam jam. Udara dingin pegunungan perlahan merayap masuk lewat celah ventilasi mobil sewaan yang sudah aus karet pelindungnya. Semakin jauh kendaraan meninggalkan jalur tol utama, pemandangan berganti menjadi deretan pohon pinus yang rapat dan tebing-tebing batu berlumut basah.
Mobil berhenti di depan sebuah rumah kayu berlantai dua yang berdiri agak terpisah dari pemukiman warga. Bangunan itu tampak tua namun terawat di bagian luarnya, berdiri tepat di atas tanah berkontur miring yang menghadap langsung ke bentangan danau. Dari teras depan, permukaan air tampak tenang, berwarna abu-abu kebiruan di bawah naungan langit sore yang mendung.
Sonia keluar dari mobil, menyerap hawa dingin yang mendadak menusuk kulit lengannya. Aroma tanah basah, embun, dan kayu pinus lapuk langsung menyeruak, menggantikan bau pendingin udara mobil dan asap knalpot yang melekat di pakaiannya selama perjalanan.
Ibu RT setempat—seorang wanita paruh baya berkerudung rajut bernama Bu Sumi—sudah menunggu di teras depan sambil memegang sekumpulan kunci bertali besi.