Rumah Bagi Dua Hati

kholid alamsyah
Chapter #3

Bengkel Beraroma Kayu Tua

Fajar di Lembah Danau tidak pernah hadir dengan keriuhan. Kabut tebal merayap pelan dari permukaan air, membungkus dahan-dahan pohon pinus dan menutupi atap seng bengkel kayu tua milik almarhum Kakek Bahri. Andrew terbangun sebelum jam lima pagi. Udara dingin yang menerobos masuk dari celah ventilasi kamar lantai dua terasa menggigit kulit, namun rasa dingin itu justru membawa semacam kesadaran yang menenangkan sebuah pengingat bahwa ia tak lagi berada di kamar apartemennya yang ber-AC sentral di Jakarta.

Setelah menyeduh kopi hitam tanpa gula di dapur kecilnya, Andrew melangkah turun menuju bangsal utama bengkel. Suasana di dalam masih temaram. Sinar matahari pagi baru tampak berupa garis-garis keemasan tipis yang memotong gulita lewat sela-sela papan dinding.

Andrew menyalakan satu-satunya lampu gantung berserat kawat di tengah ruangan. Cahaya kuning hangat seketika menerangi deretan perkakas yang bergantung rapi di dinding kayu: gergaji potong, ketam kayu manual dengan gagang tanduk, pahat berbagai ukuran yang sedikit berkarat di bagian pangkalnya, serta beberapa meteran pita berbahan seng.

Di tengah bengkel, tergeletak sebuah bangku kayu panjang bermaterialkan jati jawa tua. Bangku itu sudah kehilangan lapisan pelindungnya; permukaannya penuh dengan goresan dalam, lapuk di beberapa sudut, dan salah satu kakinya agak miring akibat pasak yang longgar. Bangku itu adalah karya terakhir almarhum kakeknya sebelum meninggal sepuluh tahun lalu, yang selama ini dibiarkan terbengkalai di sudut bangsal.

Andrew menyingsingkan lengan kemeja flanel tebalnya. Ia menarik napas panjang, menghirup dalam-dalam aroma khas yang memenuhi ruangan—perpaduan antara debu gergaji, resin damar, dan kelembapan tanah pegunungan. Bagi Andrew, aroma ini adalah ingatan paling jujur tentang masa kecilnya. Di tempat ini, kayu tidak pernah berbohong. Jika ada bagian yang cacat, seratnya akan memperlihatkannya dengan jelas. Jika pasaknya kurang presisi, strukturnya akan bergoyang. Tidak ada ruang untuk kepalsuan atau janji manis di atas meja kerja seorang tukang kayu.

Ia mengambil ketam kayu manual—sebuah alat serut kayu tradisional buatan Jerman yang dulu amat disayangi kakeknya. Andrew memeriksa ketajaman bilah bajanya dengan ibu jari. Sedikit tumpul. Dengan telaten, ia mengambil batu asah, meneteskan beberapa titik minyak pelumas di atas permukaannya, lalu mulai menggosokkan bilah baja itu dengan gerakan maju-mundur berirama.

Srett... srett... srett...

Bunyi gesekan besi dan batu asah itu menggema ritmis di dalam bengkel yang sunyi. Gerakan yang konstan dan berulang tersebut seolah-olah berfungsi sebagai terapi bagi pikiran Andrew yang kotor. Setiap kali bayangan wajah mantan tunangannya muncul di kepala—suara lembut yang mengiris hati saat mengucapkan kata "terlalu membosankan"Andrew menekan bilah besi itu lebih kuat ke batu asah.

Di Jakarta, Andrew bekerja di depan layar monitor berukuran 32 inci. Ia menggambar cetak biru gedung-gedung komersial berlantai belasan, memperhitungkan struktur baja ringan, serta menyusun presentasi visual yang penuh dengan istilah-istilah arsitektur modern demi memuaskan para investor. Namun pada akhirnya, semua hasil kerjanya terasa abstrak dan jauh. Ia hanya merancang, tetapi tidak pernah menyentuh materialnya secara langsung. Dan ketika seluruh hidup perencanaannya runtuh hanya dalam satu malam, ia tidak memiliki benda padat apa pun yang bisa ia pegang untuk membuktikan bahwa usahanya pernah ada.

Di sini, di atas meja kerja kayu ini, semuanya berbeda.

Begitu bilah ketam dirasa cukup tajam, Andrew menguncinya kembali pada balok kayu pemegang. Ia mengarahkan alat itu ke permukaan bangku jati tua yang kasar. Dengan kedua tangan memegang teguh gagang ketam, ia mendorong alat itu melintasi serat kayu dengan satu dorongan panjang yang mantap.

Lihat selengkapnya