Matahari menjelang siang di Lembah Danau tidak membawa terik yang membakar, melainkan hamparan hangat tipis yang membiaskan kabut tersisa di celah-celah pepohonan pinus. Sonia menyapu serpihan kayu dan debu tipis di ambang pintu samping rumah sewanya. Usahanya mengganjal gagang pintu yang longgar dengan kursi kayu tadi malam terbukti hanya solusi sementara. Saat ia mencoba menarik gagang kuningan tua itu pagi ini, mekanisme penguncinya justru terlepas sepenuhnya. Lidah besi pengunci terkunci di dalam selongsong, membuat pintu kayu tebal tersebut tidak bisa tertutup rapat dan menyisakan celah sempit yang terus-menerus mengalirkan angin dingin dari arah danau.
Sonia menarik napas panjang, menatap puing-puing komponen besi kecil yang berserakan di telapak tangannya. Sebagai seseorang yang terbiasa mandiri dan enggan bergantung pada orang lain, naluri pertamanya adalah memperbaiki sendiri kerusakan itu. Ia mengambil obeng minus kecil dari tas perkakas darurat di mobilnya, mencoba mencongkel pelat selot yang tersangkut. Namun, alih-alih terlepas, ulir sekrup tua yang sudah berkarat itu justru terkikis habis, menyisakan kepala sekrup yang licin dan mustahil diputar dengan alat seadanya.
Sonia berdiri termenung di lorong dapur. Keringat dingin mulai membasahi dahi di balik poninya. Pintu samping itu menghadap langsung ke jalur setapak menuju danau. Membiarkannya terbuka tanpa selot malam nanti bukanlah pilihan yang bijak, apalagi untuk seorang wanita yang tinggal sendirian di pinggiran desa asing.
Saran Bu Sumi kemarin sore mendadak melintas di kepalanya. “Kalau nanti Mbak Sonia kesusahan ngunci dari dalam, panggil saja Bang Andrew di sebelah. Dia ahli urusan kayu sama pertukangan.”
Sonia mendesis pelan. Sejujurnya, setelah dikhianati oleh pria yang paling ia percayai dan dicecar oleh keluarga besarnya di Jakarta, bertemu dengan pria asing—apa pun profesinya—adalah hal terakhir yang ingin ia lakukan. Pikirannya masih dipenuhi rasa curiga dan ketakutan akan interaksi yang berpotensi memicu kerumitan baru. Namun, melihat celah pintu yang bergoyang ditiup angin pegunungan, keputusannya tidak lagi didasari oleh gengsi, melainkan kebutuhan praktis.
Sonia merapikan jaket rajut cokelat tuanya, menyisir rambut hitamnya yang terurai sebatas bahu, lalu melangkah keluar melewati teras depan.
Jalan setapak menuju bengkel kayu di bawah terjal dan licin oleh tumpukan jarum pinus basah. Sonia berjalan perlahan, menjaga keseimbangannya sembari mengamati lingkungan sekitar. Dari balik pepohonan, aroma kayu jati yang terbakar tipis dan tatal kayu segar mulai tercium. Tak lama kemudian, terdengar dengung mesin amplas yang konstan, bersaing dengan bunyi derit burung-burung di dahan pinus.
Sonia tiba di pelataran bengkel beratap seng itu. Bangunan kayu tersebut tampak begitu terbuka dan jujur. Tidak ada pagar tinggi atau papan nama mentereng, hanya deretan balok kayu jati dan mahoni yang ditumpuk rapi di samping pintu masuk.
Di dalam bengkel yang terang oleh sinar matahari menerobos celah dinding, seorang pria bertubuh tinggi dengan kemeja flanel lengan panjang yang digulung hingga siku sedang menunduk di atas sebuah meja kerja besar. Pria itu memakai kacamata pelindung bening, fokus menggerakkan mesin amplas di atas permukaan bangku kayu panjang. Debu halus beterbangan di sekitarnya, tertangkap oleh sorot cahaya matahari seperti pendar emas.
Sonia mematung sejenak di ambang pintu. Ada aura ketenangan yang asing dari cara pria itu bekerja. Tidak ada gerakan terburu-buru, tidak ada gestur cemas. Pria itu tampak menyatu sepenuhnya dengan material di depannya.
"Permisi..." sapa Sonia, mencoba meninggikan suaranya agar mengatasi dengung mesin.
Dengung mesin amplas seketika berhenti. Pria itu mematikan sakelar, meletakkan alatnya di meja, lalu melepaskan kacamata pelindungnya. Ia mengusap dahi dengan punggung tangan sebelum menoleh ke arah sumber suara.
Mata mereka berdua bertemu untuk pertama kalinya.
Andrew terdiam sejenak. Di depannya berdiri seorang wanita dengan kulit agak pucat, mengenakan jaket rajut yang sedikit kebesaran. Lingkar hitam tipis di bawah mata wanita itu tidak bisa menyembunyikan garis wajahnya yang tegas dan cantik, tetapi yang paling menyita perhatian Andrew adalah binar matanya: sebuah tatapan yang waspada, tertutup, dan sarat akan pertahanan diri. Tatapan yang sangat familier bagi Andrew, karena ia melihat cermin yang sama setiap kali menatap pantulan dirinya di kaca setiap pagi.
"Ya? Ada yang bisa dibantu?" tanya Andrew dengan suara berat yang bernada datar, tanpa sedikit pun usul godaan atau keramahan yang dibuat-buat.