Dua hari setelah perbaikan pintu samping, ritme hidup Sonia di Lembah Danau mulai terbentuk. Pagi harinya diisi dengan menyeduh teh hangat, membilas wajah dengan air sumur yang dingin menembus tulang, lalu duduk di depan layar laptop untuk menyelesaikan draf revisi maskot perusahaan kopi lokal yang tenggat waktunya tinggal menghitung hari.
Namun, kendala baru muncul dari meja kayu panjang di depan jendela utama tempat kerja impiannya. Meja itu memang menyajikan pemandangan danau yang menakjubkan, tetapi strukturnya sudah sangat tua. Setiap kali Sonia menggoreskan pena digitalnya di atas papan gambar dengan sedikit penekanan, seluruh permukaan meja ikut bergetar ritmis. Getaran kecil itu merusak presisi garis vektor yang sedang ia buat, memaksa Sonia menahan sikunya dengan kram setiap setengah jam.
Sonia menghela napas, meletakkan pena digitalnya di atas tatakan. Ia membungkuk ke bawah meja, memeriksa bagian kolongnya. Salah satu sambungan kayu antara kaki meja dan balok penopang utama sudah renggang sekitar setengah sentimeter. Pasak kayunya sudah lapuk dan pecah, membuat salah satu kaki meja menggantung tidak sempurna di atas lantai papan yang agak miring.
Ia mencoba mengganjal kaki meja itu dengan lipatan kertas karton tebal. Berhasil menahan guncangan sebentar, tetapi begitu berat lengannya bertumpu saat mengetik, karton itu tergeser dan meja kembali bergoyang.
Di tengah rasa jengkelnya, ketukan pelan berbunyi tiga kali di pintu depan.
Sonia tersentak kecil, merapikan kaus terusan abu-abunya, lalu melangkah ke depan. Saat pintu dibuka, Andrew berdiri di ambang teras. Pria itu mengenakan jaket kerja berwarna hijau tentara yang agak kusam, membawa sebuah kotak kayu berisi minyak pelumas dan rantai cadangan.
"Selamat pagi," tegur Andrew datar. "Maaf mengganggu. Saya cuma mau memastikan selot pintu samping kemarin nggak seret kena embun malam. Kemarin angin danau lumayan kencang."
Sonia menatap Andrew sejenak, terkejut oleh perhatian kecil yang tidak ia duga. "Pagi, Andrew. Oh, pintu samping aman banget. Kuncinya lancar, nggak ada masalah."
Andrew mengangguk paham, siap berbalik untuk melanjutkan perjalanannya menuju warung Pak RT di ujung jalan. Namun, matanya yang terlatih menangkap potongan-potongan kertas karton yang berserakan di sekitar meja kerja Sonia di ruang tamu, serta posisi papan gambar yang agak miring.
"Mejamu bergoyang?" tanya Andrew polos, menunjukkan arah dengan dagunya.
Sonia menoleh ke belakang, lalu tersenyum tipis senyuman kecil yang sarkastis pada ketidakberuntungannya sendiri. "Iya. Salah satu kakinya agaknya sudah minta pensiun. Saya coba ganjal pakai karton, tapi tetap saja labil tiap kali dipukuli pen lukis."
Tanpa diminta dan tanpa menunjukkan gestur sok tahu, Andrew meletakkan kotak peralatannya di teras. "Boleh saya lihat sebentar?"
Sonia ragu sejenak, tetapi melihat sikap Andrew yang sopan dan tidak mengintimidasi, ia mengangguk dan memberi jalan. "Boleh. Silakan."