Suara gemericik hujan gerimis yang menyapu permukaan danau sejak fajar mulai reda menjelang pukul sepuluh pagi. Udara Lembah Danau mengembun pekat, menempel di dedaunan pinus dan menyisakan genangan-genangan air kecil di sepanjang jalan setapak berbatu. Sonia memadamkan layar laptopnya setelah mengirimkan berkas revisi desain ke kliennya di Jakarta. Rasa pegal di pundaknya serta perutnya yang mulai berbunyi memaksa Sonia untuk keluar mencari penganan hangat.
Ia mengenakan jaket parka berwarna hijau zaitun, mengancingkannya rapat-rapat sampai ke leher, lalu berjalan menyusuri jalan desa menuju persimpangan dekat dermaga kecil. Di sana berdiri sebuah warung kayu beratap seng gelombang dengan papan nama kayu cat putih yang terkelupas bertuliskan Warung Kopi & Gorengan Kak Rani.
Aroma gorengan tempe yang baru diangkat dari minyak panas berpadu dengan wangi seduhan kopi kasar langsung menyambut Sonia saat ia menyibak tirai bambu di depan pintu. Warung itu tidak luas, hanya berisi dua meja kayu panjang dan beberapa bangku bakso plastik. Dindingnya dihiasi kalender toko kelontong dari tahun lalu dan beberapa bungkus kopi instan yang menggantung berderet.
"Monggo, Mbak! Masuk, masuk! Masih hangat gorengannya," sapa seorang wanita berusia awal tiga puluhan dengan celemek merah pudar berikat pinggang. Senyumnya lebar dan hangat, memancarkan keramahan khas warga lokal yang cair. Itu adalah Rani, pemilik warung.
"Selamat pagi, Mbak," balas Sonia ramah, duduk di sudut meja kayu dekat jendela. "Saya mau teh manis hangat sama tempe mendoannya dua, Mbak."
"Siap, Mbak Cantik! Penghuni baru rumah sewa Bu Sumi, kan? Saya Rani. Kemarin Bu Sumi sempat cerita kalau ada desainer dari Jakarta yang sewa rumah atas," celoteh Rani ceria sembari mencelupkan adonan tempe ke wajan dengan ketangkasan yang terlatih.
Sonia tersenyum tipis. Di kota kecil seperti ini, kabar kepindahannya memang bukan lagi rahasia. Namun entah mengapa, nada bicara Rani tidak terasa mengintimidasi atau kepo jahat, melainkan murni keramahan warga desa.
Baru saja Rani meletakkan piring kecil berisi tempe mendoan beruap di meja Sonia, tirai bambu pintu depan kembali tersibak. Langkah kaki dengan sepatu bot tebal berbunyi mantap di atas lantai semen basah.
Andrew melangkah masuk. Pria itu memakai jaket kanvas cokelat yang basah oleh sisa gerimis di bagian bahunya. Rambut pendeknya sedikit acak-acakan terkena angin.
"Eh, Mas Andrew! Pas banget baru diangkat mendoannya," seru Rani langsung dengan nada suara yang naik satu oktav. "Tumben jam segini baru keluar dari bengkel? Biasanya jam tujuh sudah nangkring minta kopi hitam."
Andrew menghentikan langkahnya sejenak saat menyadari keberadaan Sonia di sudut meja. Tatapan mereka berselisih sekilas. Andrew mengangguk pelan sebagai sapaan, yang dibalas Sonia dengan senyuman tipis yang sama sopannya.
"Tadi masih nanggung ngerjain amplasan meja, Mbak Rani," jawab Andrew dengan suara beratnya yang tenang. "Kopi hitam manisnya satu, ya. Sama pisang goreng kalau ada."
"Pisang gorengnya baru dipotong, tunggu lima menit ya. Nah, duduk situ saja, Mas, samping Mbak Sonia. Meja sebelah masih ada bekas tumpahan kecap Pak RT tadi pagi belum saya lap," potong Rani cepat, tangannya menunjuk bangku kosong yang berjarak dua jengkal dari tempat Sonia duduk.