Rumah Bagi Dua Hati

kholid alamsyah
Chapter #7

Garis dan Serat Kayu

Matahari sore menggantung rendah di atas perbukitan sebelah barat Lembah Danau, membiaskan pendar keemasan di atas permukaan air yang tenang. Suasana desa mulai berangsur sepi ketika angin pegunungan bertiup semakin dingin, membawa aroma resin pinus dan tanah yang berembun. Sonia berjalan santai menyusuri jalan setapak berbatu di bawah bukit, meregangkan otot-otot leher dan punggungnya yang kaku setelah lima jam berturut-turut menatap layar monitor.

Awalnya ia hanya berniat berjalan-jalan pendek menuju tepi danau untuk menikmati udara sore. Namun, saat melintasi deretan pohon pinus yang membatasi area rumah sewanya dengan bengkel kayu di bawah, pendengarannya ditangkap oleh bunyi serutan kayu yang konstan dan ritmis. Srett... srett... srett...

Langkah kaki Sonia melambat. Ia berdiri di tepi bukit kecil, memandangi bangsal beratap seng di bawah sana. Pintu besar bengkel itu terbuka lebar, membiarkan cahaya sore masuk dan menerangi bagian dalam bangsal. Di tengah ruangan, Andrew berdiri menunduk di atas meja kerja besar, menggerakkan ketam manual di atas selembar papan mahoni dengan konsentrasi penuh.

Sonia ragu sejenak. Ia tidak ingin mengganggu kesibukan Andrew, tetapi dorongan rasa ingin tahu yang alami serta ingatan akan kehangatan obrolan mereka di warung kopi Rani kemarin membuatnya memberanikan diri untuk melangkah turun.

Suara gesekan sepatu bot Sonia pada daun-daun kering di pelataran membuat Andrew menghentikan gerakannya. Pria itu menyapu tatal kayu dari atas papan, menyangkutkan ketamnya di rak perkakas, lalu menoleh.

"Sore, Sonia," tegur Andrew dengan nada suaranya yang tenang dan ramah.

"Sore, Andrew. Maaf mengganggu, saya cuma lewat mau ke danau tadi," ujar Sonia seraya berdiri di ambang pintu bengkel. "Kelihatannya sibuk banget."

"Nggak mengganggu kok. Cuma lagi meratakan papan mahoni buat bikin daun meja kecil," jawab Andrew, mengibaskan debu kayu yang menempel di celemek kerjanya. Ia menunjuk ke arah bangku kayu panjang yang kemarin sempat ia amplas, kini sudah berdiri kokoh di sudut ruangan. "Masuk saja kalau mau lihat-lihat."

Sonia melangkah masuk dengan hati-hati, menjaga jarak dari tumpukan kayu jati di sebelah kiri. Ini pertama kalinya ia melihat isi bengkel Andrew secara menyeluruh dalam keadaan terang. Tempat itu tidak sekadar ruang pertukangan biasa; ada sistem tata letak yang sangat teratur. Perkakas gantung dikelompokkan berdasarkan jenis dan ukurannya, kayu-kayu balok ditumpuk sesuai tingkat kelembapan, dan lantai papan dilapisi serbuk kayu halus yang tercium harum seperti rempah tua.

Mata Sonia yang terlatih mengamati visual mendadak tertuju pada sebuah meja miring tinggi di sudut bengkel—sebuah meja gambar arsitek kayu klasik lengkap dengan mesin penggaris paralel. Di atas papan miring itu, tergelar beberapa lembar kertas kalkir berukuran A1 yang ditahan oleh magnet kecil di setiap sudutnya.

Sonia mendekati meja gambar tersebut dengan binar mata penasaran. "Boleh lihat ini?"

Lihat selengkapnya