Rumah Bagi Dua Hati

kholid alamsyah
Chapter #8

Berteduh di Dermaga

Ujung musim pancaroba di Lembah Danau selalu membawa kejutan cuaca yang sulit ditebak. Siang yang tadinya dinaungi langit biru pucat dengan sapuan awan tipis, mendadak berubah menjadi gelap gulita hanya dalam hitungan lima belas menit. Awan hitam tebal bergulung-gulung turun dari puncak bukit barat, menyerap pendar matahari dan mengubah lanskap danau menjadi hamparan kelabu yang temaram.

Sonia berdiri di ujung dermaga kayu tua, memegang kamera analog kecil miliknya. Ia baru saja bermaksud mengabadikan bayangan pepohonan pinus di atas permukaan air sebelum hujan turun. Namun, embusan angin kencang yang bertiup tiba-tiba dari tengah danau membuat jaket parkanya berkibar keras. Bau tanah basah yang pekat dan hawa dingin yang menusuk menyergap seketika—pertanda bahwa badai kecil akan segera membilas kawasan tersebut.

Sebelum Sonia sempat melangkahkan kaki untuk kembali ke jalan menanjak menuju rumah sewanya, tetesan air hujan berukuran besar mulai dihantamkan angin dari langit. Tuk... tuk... tuk... Suara titik-titik air pertama menghantam papan kayu dermaga, lalu dalam kurun waktu kurang dari semenit, tirai hujan deras membentang rapat, menghapus pandangan ke arah bukit dan menutup jalan pulang.

Sonia berlari kecil mencari tempat berlindung. Di pangkal dermaga, berdiri sebuah saung kayu tradisional bertiang empat dengan atap ijuk tebal yang biasa digunakan para nelayan lokal untuk merapikan jala. Sonia melompat masuk ke bawah naungan saung tersebut, menepuk-nepuk lengan jaketnya yang mulai basah kuyup, lalu mengusap tetesan air hujan di wajahnya.

Ketika ia mendongak untuk merapikan poni rambutnya yang lepek, Sonia tersentak pelan.

Di sudut saung yang berseberangan, berdiri Andrew. Pria itu memakai jaket kanvas hijau tua dengan tudung yang sengaja diturunkan. Di samping kakinya tergeletak sebuah ember plastik kecil berisi beberapa perkakas pancing sederhana. Pria itu tampaknya juga terjebak hujan saat sedang memancing atau sekadar berjalan-jalan di tepi danau.

"Sonia?" tegur Andrew, suaranya sedikit terendam oleh riuh deru hujan yang menghantam atap ijuk di atas kepala mereka.

Sonia terkekeh pelan, mengatur napasnya yang agak terengah akibat berlari. "Andrew? Kamu di sini juga? Hujannya mendadak banget, ya."

"Iya. Cuaca danau kalau sore memang sering menipu," sahut Andrew. Ia menggeser posisi berdirinya ke sudut yang lebih kering, memberi ruang yang lebih luas bagi Sonia agar tidak terkena cipratan air yang tertiup angin dari samping. "Masuk agak ke dalam sini. Anginnya bertiup dari utara, nanti jaketmu basah semua."

Sonia menuruti saran Andrew. Ia melangkah dua pijakan mendekat ke sudut dalam saung. Kini mereka berdiri berjarak tak lebih dari satu meter di bawah naungan bambu dan kayu tua yang sama. Di luar, hujan turun sangat lebat, menciptakan dinding air yang memisahkan saung kecil itu dari dunia luar. Danau di depan mereka tampak mendidih oleh jutaan titik air yang menghantam permukaannya secara bersamaan, membiaskan uap putih yang membumbung tinggi.

Sonia merapatkan kedua tangannya di depan dada, meniupkan napas hangat untuk mengusir rasa dingin yang mulai menggerogoti jemarinya. Kamera analognya ia masukkan aman ke dalam kantong dalam jaket yang kedap air.

Lihat selengkapnya