Seminggu setelah hujan deras di saung dermaga, dinamika di antara Andrew dan Sonia berubah menjadi lebih hangat dan alami. Tidak ada lagi kekakuan saat mereka berpapasan di jalan setapak, dan percakapan di antara mereka mengalir tanpa beban. Lembah Danau yang tadinya menjadi pelarian yang sepi kini perlahan terasa seperti tempat yang memberi ruang untuk bernapas.
Pagi itu, Mbah Margo melangkah ke pelataran bengkel kayu Andrew. Pria tua itu tidak sendirian; ia datang bersama Pak RT dan membawa sebuah cetak biru sederhana di atas kertas kotak-kotak yang sudah sedikit menguning.
"Ndra," panggil Mbah Margo hangat, menyandarkan tongkat kayunya pada balok mahoni. "Mbah mau minta tolong."
Andrew menghentikan keningnya dari atas balok kayu, mengelap tangannya dengan kain perca. "Ada apa, Mbah? Apa ada bagian rumah warga yang rusak lagi?"
"Bukan rumah warga," jawab Mbah Margo sembari mengurai kertas di atas meja kerja. "Bangunan balai desa lama yang di dekat lapangan itu, lho. Warga mau fungsikan kembali jadi perpustakaan dan ruang baca anak-anak desa. Biar anak-anak kalau sore ada tempat main yang berguna, nggak cuma main ponsel terus."
Andrew menunduk, memperhatikan gambar kasar denah ruangan tersebut. Ruangannya berukuran sekitar enam kali delapan meter dengan lantai semen dan dinding bata polos.
"Kami butuh tiga set rak buku kayu yang kokoh, meja baca panjang, sama bangku-bangku kecil buat anak-anak," jelas Pak RT menimpali. "Masalahnya, kas desa buat fasilitas ini pas-pasan banget, Mas Andrew. Cuma ada anggaran buat beli bahan kayu jati belanda atau kayu cemara bekas peti kemas. Jadi kami butuh bantuan tenaga tukang yang mau ngerjain."
Andrew tersenyum tanpa ragu. "Soal ongkos pengerjaan nggak usah dipikirkan, Pak RT. Saya kerjakan gratis. Kayu jati belanda juga bagus kalau diolah dengan benar, seratnya khas dan ringan buat furnitur anak-anak."
"Alhamdulillah," Mbah Margo mengelus dadanya lega. "Tapi ada satu lagi, Ndra. Dinding balai desa itu kan agak suram, catnya sudah mengelupas. Warga ingin dinding bagian dalam digambar mural bernuansa alam yang bikin anak-anak betah membaca. Mbah tadi sudah mampir ke rumah sewa Mbak Sonia..."
Andrew mendongak, alisnya terangkat sedikit. "Sonia?"
"Iya," Mbah Margo terkekeh pelan. "Mbak Sonia langsung setuju waktu Mbah minta tolong. Katanya dia senang bisa bantu melukis dinding. Mbah mikir, daripada kamu ngerjain raknya sendirian di bengkel dan Mbak Sonia melukis sendirian di sana, gimana kalau kalian garap proyek ini bareng-bareng langsung di balai desa?"
Andrew terdiam sejenak. Pikiran untuk bekerja berdampingan dengan Sonia dalam satu ruangan selama beberapa hari ke depan mendadak membuat dadanya berdesir hangat. "Saya siap kapan saja, Mbah."
Dua hari kemudian, proyek revitalisasi ruang baca desa resmi dimulai.
Bangunan tua bekas balai desa itu berudara sejuk dengan dua jendela besar yang menghadap langsung ke kebun teh. Andrew memindahkan potongan-potongan balok jati belanda yang sudah diampelas halus di bengkelnya ke dalam ruangan tersebut, lengkap dengan perkakas pertukangan portabel dan mesin pemotong kayu.