Selesainya proyek perbaikan perpustakaan desa menandai awal dari fase baru dalam keseharian Andrew dan Sonia di Lembah Danau. Tempat yang semula dirasa sebagai titik pelarian yang asing kini perlahan menumbuhkan ritme hidup yang hangat, teratur, dan saling melengkapi. Tanpa ada kesepakatan tertulis atau ucapan romantis yang muluk-muluk, sebuah keterikatan alami tumbuh di antara dua manusia yang sama-sama sedang menyusun kembali pecahan harapan mereka.
Pagi hari di Lembah Danau selalu dimulai dengan konsistensi yang presisi dari pihak Andrew. Pria itu bukan tipe orang yang banyak mengobrol saat fajar belum sepenuhnya menyingsing, melainkan orang yang mewujudkan perhatian lewat tindakan nyata. Tepat pukul tujuh pagi, saat kabut tipis danau masih menggantung rendah di sela-sela pohon pinus, Andrew biasa berjalan menanjak menuju teras rumah sewa Sonia. Pria itu tidak mengetuk pintu secara berlebihan; ia hanya meletakkan setumpuk kayu bakar jati tua yang sudah dipotong rapi dan dikeringkan di samping perapian teras, memastikan Sonia tidak akan kehabisan bahan bakar untuk mengusir dinginnya angin pegunungan.
Sonia, yang biasanya sudah terbangun dan menyesap teh panasnya di balik jendela, selalu menyempatkan diri membukakan pintu. Sering kali ia menemukan Andrew sedang menyapu serpihan daun kering di tangga teras sebelum berangkat ke bengkelnya.
"Terima kasih kayu bakarnya, Andrew," sapa Sonia dari balik pintu, rambut hitamnya diikat asal dengan sweater rajut hangat membungkus tubuhnya.
"Sama-sama. Kayu jati ini kadar airnya rendah, asapnya sedikit jadi nggak bikin matamu pedih saat dinyalakan," jawab Andrew singkat sembari mengibaskan sarung tangan kerjanya. Ketetapan waktu dan kepastian janji Andrew adalah hal yang sangat berharga bagi Sonia—sebuah penawar manis atas traumanya di masa lalu terhadap pria yang penuh janji palsu dan wacana kosong.
Sebagai imbalannya, Sonia membawa kehangatan dan warna baru ke dalam hidup Andrew yang tadinya begitu dingin dan mekanis. Setiap pertengahan hari, sekitar pukul dua belas siang, Sonia akan berjalan turun menuju bengkel kayu. Langkah kakinya yang ringan di atas jalan setapak berbatu menjadi pertanda bagi Andrew untuk mematikan mesin potong atau meletakkan ketam kayunya.
Sonia tidak pernah datang dengan tangan kosong. Kadang-kadang ia membawa rantang berisi nasi hangat dan tumis sayur hasil masakannya sendiri, atau sepiring kue bolu kukus buatan Mbak Rani yang ia beli saat jalan-jalan ke dermaga.
"Waktunya istirahat, Tukang Kayu," tegur Sonia ceria, melangkah masuk ke bangsal bengkel yang beraroma gurih debu kayu jati.
Andrew akan menghentikan pekerjaannya tanpa membantah. Ia mematikan sakelar lampu gantung, mengelap tangannya hingga bersih, lalu membantu Sonia merapikan sudut meja kerja besar untuk dijadikan tempat makan siang bersama. Di sana, di antara serbuk kayu yang beterbangan dan perkakas besi yang tersusun rapi, mereka duduk berhadapan menikmati makan siang sederhana.