Rumah Bagi Dua Hati

kholid alamsyah
Chapter #11

Rahasia yang Terkejar

Gerimis tipis yang menggantung sejak subuh meninggalkan uap dingin di atas kaca jendela rumah sewa Sonia. Di luar, bentangan air danau tampak pucat di bawah naungan awan kelabu yang tebal. Sonia baru saja menyelesaikan draf tata letak sebuah brosur ketika ponselnya yang tergeletak di samping papan gambar mendadak bergetar hebat di atas meja kayu.

Layar ponsel berkedip, menampilkan nama yang sudah hampir satu bulan tidak pernah muncul di sana: Ibu.

Sonia terdiam sejenak. Jemarinya yang memegang pena digital membeku di udara. Ada rasa tegang yang seketika merayap menaiki tengkuknya—sebuah refleks tubuh yang terbentuk otomatis setiap kali masa lalunya mencoba meretas benteng ketenangan yang telah ia bangun dengan susah payah di Lembah Danau.

Dengan napas yang sedikit tertahan, Sonia menggeser tombol hijau pada layar dan menempelkan gawai itu ke telinganya.

"Halo, Bu..." sapa Sonia pelan, mencoba menjaga suaranya tetap datar.

"Sonia! Akhirnya kamu angkat juga telepon Ibu!" suara dari seberang saluran langsung menyambar tanpa jeda, bernada tinggi dan sarat akan kekecewaan yang tertahan. "Kamu ini sebenarnya di mana, sih? Tante Mirna sama Om Broto kemarin datang ke rumah, nanyain kamu. Keluarga besar kita itu makin pusing, Nia!"

Sonia memejamkan mata rapat-rapat, menghela napas panjang. "Nia kan sudah bilang, Bu. Nia lagi di luar kota, lagi fokus kerja."

"Kerja apa sampai melarikan diri begitu?" cecar ibunya, suaranya terdengar makin emosional. "Kamu tahu nggak, akibat keputusan impulsif kamu membatalkan pernikahan itu, keluarga kita sekarang jadi bahan gunjingan satu kompleks! Mantan calon suamimu itu sampai sekarang masih bolak-balik minta maaf ke Ibu, dia bilang itu cuma salah paham soal keuangan. Kenapa kamu nggak bisa dewasa sedikit, sih? Masalah uang itu bisa dibicarakan baik-baik, bukannya malah kabur dan bikin malu orang tua!"

Kata-kata itu menghantam dada Sonia seperti pukulan keras yang telak. Malu. Impulsif. Tidak dewasa. Pengabaian total atas fakta bahwa ia hampir saja terjerat dalam penipuan finansial dan manipulasi emosional oleh mantan calon suaminya seolah tidak pernah bernilai di mata keluarganya sendiri. Bagi mereka, citra sosial dan gengsi acara di gedung mewah jauh lebih penting daripada kesehatan mental dan masa depan hidupnya.

"Bu," potong Sonia, suaranya mulai gemetar menahan amarah dan kepedihan yang membuncah di tenggorokan. "Pria itu memalsukan tanda tangan Nia buat pinjaman bank. Dia menimbun utang kartu kredit puluhan juta atas nama bisnis bodong. Apa Ibu mau Nia menikah sama penipu cuma demi jaga nama baik keluarga di depan Tante Mirna?"

"Tapi kan dia mau tanggung jawab, Nia! Dia janji mau dicicil!" sahut ibunya tanpa sedikit pun menunjukkan rasa simpati. "Kamu itu terlalu perhitungan, terlalu perfeksionis! Nggak ada laki-laki yang sempurna di dunia ini. Kalau kamu terus-terusan egois begini, umur kamu makin tambah, siapa lagi yang mau sama kamu?"

Lihat selengkapnya