Rumah Bagi Dua Hati

kholid alamsyah
Chapter #12

Kejujuran di Atas Sampan

Matahari sore merayap turun di balik bentangan bukit sebelah barat Lembah Danau, membiaskan garis-garis cahaya keemasan yang menembus sisa-sisa awan mendung. Sisa gerimis tadi siang telah menyisakan udara yang sangat jernih dan dingin. Permukaan air danau yang membendung di tengah lembah tampak begitu tenang, bagaikan cermin raksasa yang memantulkan siluet pepohonan pinus dan perbukitan hijau tanpa cela.

Di pinggir dermaga kayu tua, Andrew sedang menahan sebuah sampan kayu jati kecil peninggalan kakeknya. Sampan itu sudah ia rapikan kembali papan penyeimbangnya minggu lalu, dicat ulang dengan pelindung kayu transparan sehingga warna cokelat keemasannya tampak mengilat diterpa pendar matahari sore.

Andrew memegang dayung kayu di tangan kanannya, menatap Sonia yang berdiri di pangkal dermaga dengan cangkir tehnya yang sudah kosong.

"Mau coba mutar danau sebentar?" tawar Andrew dengan suara beratnya yang lembut. "Airnya lagi tenang banget sore ini. Di tengah, suasananya makin sepi, pas buat membersihkan pikiran."

Sonia menatap sampan kayu itu sejenak, lalu beralih menatap wajah Andrew. Ada rasa ragu yang sempat terbersit—bukan karena takut pada air danau, melainkan karena ia menyadari betapa rentannya perasaan yang ia miliki saat ini. Namun, binar mata Andrew yang jujur dan dapat diandalkan meruntuhkan sisa kehati-hatiannya.

"Boleh," sahut Sonia pelan, tersenyum tipis.

Andrew mengulurkan tangannya yang kokoh dan berurat tegas untuk membantu Sonia melangkah turun ke dalam sampan. Saat jemari Sonia menyentuh telapak tangan Andrew yang hangat dan agak kasar akibat bekas kerja kayu, sebuah desiran halus menyengat dadanya. Sonia duduk di bangku kayu bagian depan, sementara Andrew mendorong sampan menjauhi tiang dermaga lalu melompat masuk ke bangku belakang.

Kecipak... kecipak...

Suara susupan bilah dayung kayu yang membelah air danau terdengar berirama di tengah keheningan sore. Sampan kayu itu meluncur mulus meninggalkan tepian, menciptakan riak-riak air melingkar yang perlahan menghilang. Semakin jauh mereka mendayung ke tengah, deru angin danau terasa makin lapang. Rumah-rumah warga desa dan bengkel kayu di tepi bukit tampak makin mengecil, menyisakan pemandangan lanskap alam yang serba mahaluas.

Andrew menghentikan kayuhannya ketika sampan mereka tiba di titik tengah danau sebuah ceruk tenang yang dinaungi oleh bayangan bukit tinggi. Ia menyandarkan dayung di tepi sampan, membiarkan perahu kayu kecil itu terapung perlahan mengikuti arus air yang lembut.

Sonia merapatkan jaket parkanya, mencelupkan ujung jemarinya ke permukaan air danau yang dingin menyegarkan. Pandangannya menatap lurus ke arah cakrawala jingga.

Lihat selengkapnya