Rumah Bagi Dua Hati

kholid alamsyah
Chapter #13

Luka di Hari Pernikahan

Lampu-lampu minyak di sepanjang jalan setapak dermaga mulai dinyalakan warga desa ketika Andrew menambatkan tali sampan ke tiang kayu dermaga. Malam di Lembah Danau turun membawa hawa dingin yang kian menggigit. Uap napas membumbung tipis setiap kali mereka berbicara. Namun, setelah pengakuan Sonia di atas sampan tadi, keheningan di antara mereka tak lagi terasa sebagai jarak, melainkan ruang hangat tempat rasa percaya tumbuh tanpa paksaan.

Mereka berjalan menanjak kembali menuju pelataran bengkel kayu Andrew. Bengkel tua itu diterangi pendar kuning hangat dari dua lampu gantung berserat kawat. Di teras depan bengkel, terdapat dua kursi kayu bersandaran tinggi buatan Kakek Bahri yang menghadap langsung ke arah danau yang kini pekat tertutup kegelapan malam.

"Duduk dulu," panggil Andrew pelan. Ia melangkah ke dapur kecil di dalam bengkel, lalu kembali membawa dua cangkir cangkir kaleng berisi kopi seduh lokal yang baru disiram air mendidih. Aroma pahit manis kopi beradu dengan bau gurih tatal kayu jati di sekeliling mereka.

Andrew menyerahkan satu cangkir kepada Sonia, lalu duduk di kursi sebelah. Pria itu menyandarkan punggungnya, menatap lurus ke kegelapan danau. Cangkir kopi di genggamannya terasa hangat.

"Tadi kamu cerita tentang mantan calon suamimu," buka Andrew dengan suara beratnya yang mengayun tenang. "Sekarang giliran saya yang bayar utang cerita."

Sonia menoleh, menyesap kopinya perlahan, lalu menatap profil samping wajah Andrew. Ada guratan kelelahan emosional yang masih tersimpan di sudut mata pria itu—sebuah luka lama yang belum sepenuhnya pulih.

"Namanya Clara," tutur Andrew. "Kami pacaran hampir enam tahun, sejak saya masih merintis karier sebagai arsitek junior di firma. Di mata orang lain, kami pasangan yang sangat serasi. Dia wanita mandiri dengan pergaulan sosialita yang luas, dan saya pria yang selalu berusaha memastikan semua kebutuhannya terpenuhi."

Andrew terdiam sejenak, mengusap pinggiran cangkir kalengnya dengan ibu jari. "Saya sudah menyiapkan segalanya buat pernikahan kami. Mengumpulkan tabungan selama lima tahun, merancang rumah sendiri, sampai menyewa gedung dan vendor terbaik di Jakarta. H-3 sebelum hari H, semua persiapan sudah seratus persen selesai. Undangan sudah tersebar, jas pengantin saya sudah tergantung di kamar."

Sonia mendengarkan dengan napas tertahan. Ia bisa merasakan beratnya setiap suku kata yang diucapkan Andrew.

Lihat selengkapnya