Seminggu setelah malam pertukaran cerita di teras bengkel, ritme hubungan antara Andrew dan Sonia bergerak memasuki wilayah yang belum pernah mereka jelajahi sebelumnya. Ada semacam kesepahaman tak tertulis yang melingkupi setiap interaksi mereka: kebebasan penuh untuk menjadi diri sendiri tanpa sedikit pun topeng atau kepalsuan sosial.
Di Jakarta, kehidupan sosial mereka berdua selalu diwarnai oleh keharusan untuk tampil sempurna. Sonia mengingat betul bagaimana empat tahun bersama Bagas membuatnya senantiasa berada di bawah tekanan laten. Ia harus berpakaian rapi setiap kali menemui teman-teman bisnis mantan calon suaminya, menjaga tutur kata agar terkesan dari latar belakang keluarga terpandang, serta menyembunyikan rasa lelah atau keraguan demi mendukung citra Bagas sebagai pengusaha muda yang sukses. Hubungan itu penuh dengan kalkulasi visual dan kepura-puraan yang melelahkan.
Hal serupa dialami Andrew. Bersama Clara, Andrew selalu dituntut untuk membuktikan bahwa dirinya layak berada di lingkaran pergaulan kelas atas Jakarta. Setiap pencapaiannya sebagai arsitek selalu diukur dari seberapa besar nilai proyek yang ia pegang atau seberapa bergengsi firma tempatnya bekerja. Setiap kali Andrew menunjukkan sisi sederhananya—seperti ketagihannya pada kerajinan kayu atau keinginannya untuk hidup tenang jauh dari hiruk-pikuk pesta—Clara akan menganggapnya sebagai tanda keputusasaan dan hilangnya ambisi.
Namun di Lembah Danau, di antara dinding kayu beraroma pinus dan keheningan danau yang luas, seluruh standar palsu itu luruh tanpa sisa.
Hari Selasa sore itu, gerimis kembali turun membasahi kawasan pegunungan. Sonia duduk lesehan di lantai papan bengkel kayu Andrew, beralaskan kain terpal tebal yang bersih. Wanita itu mengenakan kaus oblong abu-abu yang agak longgar dengan lengan digulung, celana kain santai, dan kacamata berbingkai hitam yang jarang ia pakai di depan orang luar. Rambut hitamnya diikat asal-asalan ke atas, memperlihatkan tengkuknya yang ramping.
Di depannya terhampar beberapa sketsa kasar untuk kemasan produk herbal lokal yang sedang ia garap. Di samping laptopnya, tergeletak piring seng berisi ubi rebus hangat dan dua cangkir kopi yang dipesan Andrew dari warung Mbak Rani.
Sonia tidak merasa perlu berdandan cantik, tidak perlu memakai tata rias tipis, atau mencemaskan apakah penampilannya kelihatan kurang anggun. Di dekat Andrew, ia merasa sepenuhnya aman menjadi seorang Sonia yang apa adanya seorang wanita yang bisa lelah, bisa tampil berantakan saat fokus bekerja, dan tidak perlu berpura-pura selalu ceria.
Tak jauh dari situ, Andrew sedang berlutut di dekat meja potong. Pria itu memakai kaus hitam polos yang sedikit bernoda debu kayu di bagian dada dan celana jins kusam yang bagian lututnya sudah agak tipis. Rambut pendeknya sedikit acak-acakan, dan dahinya berkeringat tipis akibat menggergaji balok jati.
Andrew tidak merasa perlu menyombongkan proyek-proyek bangunan besarnya di masa lalu untuk membuat Sonia terkesan. Ia tidak perlu memamerkan pengetahuan arsitektur yang tinggi atau berpura-pura menjadi pria yang dramatis dan penuh kejutan romantis. Bagi Andrew, kehadiran Sonia yang tenang di sudut bengkelnya memberikan kepuasan yang teramat nyata sebuah pengakuan bahwa dirinya, dengan segala kesederhanaan dan kepribadiannya yang pendiam, sudah lebih dari cukup.
Kecipak... kecipak...