Musim di Lembah Danau mulai bergeser pelan menuju pertengahan kemarau pegunungan. Angin dingin dari puncak bukit masih sering bertiup menusuk, tetapi pendar matahari di pagi hari terasa makin hangat membakar embun di atas dedaunan pinus. Sonia menyapu pandangannya ke luar jendela utama rumah sewa. Meja kerja jati tua yang dua minggu lalu diperbaiki Andrew kini berdiri sangat kokoh, tanpa ada getaran sedikit pun saat jemarinya menari di atas papan gambar digital.
Namun, bekerja delapan hingga sembilan jam sehari di depan monitor tetap saja menuntut ketahanan fisik. Karena posisi kursi kayu rotannya yang agak tinggi, kaki Sonia sering kali menggantung tidak sempurna, menyebabkannya cepat pegal di bagian betis dan punggung bawah. Untuk mengatasi hal itu, Sonia menumpuk tiga buku ensiklopedia tua tebal di bawah mejanya sebagai ganjalan kaki darurat.
Siang itu, ketika Andrew mampir mengantarkan potongan kayu bakar harian, matanya yang cermat tak sengaja menangkap posisi duduk Sonia di depan meja. Pria itu memperhatikan bagaimana Sonia berkali-kali mengubah posisi kakinya di atas tumpukan buku yang agak licin, serta ringisan tipis di bibir wanita itu saat meregangkan pinggangnya.
Andrew tidak mengomentari hal itu saat itu. Pria itu hanya meletakkan kayu bakar di dekat perapian teras, mengucapkan terima kasih atas cangkir kopi yang disodorkan Sonia, lalu pamit kembali ke bengkel.
Namun, malam harinya, ketika keheningan menyelimuti Lembah Danau dan warga desa sudah terlelap, lampu gantung di bengkel kayu Andrew masih menyala terang.
Andrew berdiri di depan meja kerjanya, memegang selembar papan kayu sonokeling sisa pengerjaan furnitur lama. Kayu sonokeling itu memiliki serat-serat bergelombang warna cokelat kehitaman yang amat anggun. Dengan ketelitian yang biasa ia curahkan untuk rancangan maket bangunan, Andrew mulai menggambar garis-garis pemotongan.
Ia merancang sebuah sandaran kaki ergonomis dengan kemiringan lima belas derajat—sudut ideal untuk meredakan ketegangan otot paha dan betis saat duduk lama. Ia memotong balok-balok kayu sonokeling itu, mengamplas sudut-sudutnya hingga membulat halus tanpa tepi yang tajam, lalu memasang dua bilah karet tipis di bagian bawahnya agar tidak bergeser saat ditaruh di atas lantai papan.
Tidak berhenti di situ, Andrew menatap sisa-sisa potongan balok kayu jati tua di sudut ruangan. Jemarinya yang terampil meraih pahat bubut. Selama dua jam berikutnya, di bawah temaram lampu gantung dan deru berirama mesin bubut manual, Andrew mengubah balok kayu segi empat itu menjadi sebuah organizer alat tulis berdiri berbentuk silinder yang sangat indah. Di bagian atasnya, ia membuat delapan lubang khusus berukuran presisi untuk tempat pen digital, kuas lukis, dan pensil Sonia, lengkap dengan ukiran garis kontur danau tipis di sekeliling dinding kayunya.
Pukul enam pagi berikutnya, ketika kabut danau masih tebal mengapung di udara, Andrew melangkah menanjak menuju teras rumah sewa Sonia.
Sonia yang baru saja menyiram tanaman gantung di teras tertegun melihat Andrew datang membawa sebuah kotak kayu sonokeling berpelindung halus dan sebuah tabung kayu jati bermotif ukir.
"Andrew? Pagi banget... Ada apa?" tanya Sonia heran, merapatkan sweater merah marunnya.