Pagi di pertengahan musim kemarau Lembah Danau dibuka oleh hamparan kabut tipis yang menggantung rendah di atas permukaan air. Sinar matahari menerobos sela-sela tajuk pohon pinus, membiaskan pendar keemasan di atas pelataran bengkel kayu Andrew. Udara terasa dingin dan kering, membawa aroma resin kayu yang khas.
Andrew baru saja menyapu sisa-sisa tatal kayu dari meja kerjanya ketika ponselnya yang tergeletak di atas meja gambar bergetar panjang.
Sejak pindah ke Lembah Danau lebih dari sebulan lalu, Andrew jarang sekali memeriksa ponselnya kecuali untuk keperluan pekerjaan dengan Pak RT atau memesan pasokan bahan dari pemasok kayu lokal. Sebagian besar kontak dari kehidupan lamanya di Jakarta sengaja ia redupkan notifikasinya. Namun, nada getar kali ini berulang dua kali, menandakan sebuah pesan aplikasi pesan singkat yang masuk beruntun.
Andrew menyapu jemarinya yang berdebu pada celemek kerjanya, melangkah mendekati meja gambar, lalu meraih ponsel tersebut.
Di layar kaca yang sedikit berdebu, tertera sebuah nama yang sudah bertahun-tahun menjadi bagian dari kesehariannya, nama yang pernah mengukir janji masa depan sebelum akhirnya meremukkan seluruh harga dirinya dalam satu malam: Clara.
Jemari Andrew membeku di atas layar. Dada pria itu mendadak berdesir dingin sebuah refleks emosional dari memori lama yang belum sepenuhnya terhapus. Andrew menarik napas panjang, merapatkan bibirnya, lalu membuka susunan pesan panjang yang dikirimkan mantan tunangannya tersebut.
Ndra, apa kabar? Aku tahu kamu mungkin marah atau nggak mau baca pesan ini. Aku minta maaf banget baru berani kirim pesan sekarang.
Selama sebulan lebih kamu pergi tanpa kabar dari Jakarta, aku nggak pernah merasa tenang, Ndra. Aku sudah coba fokus sama karierku dan coba memperbaiki hubungan sama orang yang dulu aku pikir lebih tepat buat aku. Tapi ternyata aku salah besar. Semua kemewahan dan petualangan yang dulu aku cari itu cuma kepalsuan.
Aku baru sadar kalau aku kehilangan satu-satunya pria yang betul-betul tulus mencintai aku. Aku rindu ketenanganmu, Ndra. Aku rindu cara kamu memperlakukan aku dengan sabar. Aku sadar kalau keputusan aku ngebatalin pernikahan kita waktu itu adalah kesalahan terbesar dalam hidup aku.
Aku dengar dari teman firmamu kalau kamu sekarang ada di Lembah Danau, mengurus bengkel kakekmu. Bisakah kita ketemu sebentar? Aku mau datang ke sana akhir minggu ini. Aku mau minta maaf secara langsung dan bicara soal kesempatan kedua buat kita. Tolong balas ya, Ndra.
Andrew berdiri mematung di samping meja gambarnya. Kalimat demi kalimat di layar ponsel itu membentur dinding pikirannya dengan telak. Kesempatan kedua. Kesalahan terbesar. Rindu ketenanganmu.
Dulu, kata-kata seperti ini adalah sesuatu yang sangat didambakan Andrew di minggu-minggu pertama setelah pembatalan pernikahan mereka. Waktu itu, di dalam kamar apartemennya yang sepi di Jakarta Selatan, Andrew pernah berharap Clara akan meneleponnya, mengaku menyesal, dan memintanya kembali. Namun kini, setelah lebih dari sebulan berlalu, saat Andrew telah merata kembali puing-puing hidupnya di antara deru mesin pasrah dan keheningan danau, pesan itu datang bukan lagi sebagai obat, melainkan sebagai guncangan yang menguji kekuatan fondasi barunya.