Dua hari setelah kabar pesan dari Clara menggantung di udara bengkel, keheningan antara Andrew dan Sonia membendung halus seperti kabut yang enggan terangkat. Mereka tetap bertemu saat siang, tetap bertukar salam saat pagi, tetapi ada kecanggungan tipis yang merayap di antara setiap kata. Keraguan tentang masa lalu masing-masing yang belum sepenuhnya selesai kini membayang bagaikan cermin retak yang belum direkat kembali.
Kamis sore itu, langit Lembah Danau dinaungi awan abu-abu tebal yang menggantung rendah. Angin dingin bertiup membawa deru daun pinus yang saling bergesekan.
Sonia baru saja merapikan papan gambarnya saat mendengar suara derum mesin mobil asing meraung di jalan setapak berbatu di depan rumah sewanya. Jalan kecil berkerikil menuju bukit itu jarang sekali dilalui kendaraan roda empat biasa, apalagi sebuah mobil sedan hitam berkilat buatan Jerman yang tampak sangat kontras dengan lanskap pedesaan Lembah Danau.
Sonia melangkah ke jendela teras, menyibak tirai tipis. Jantungnya seketika berhenti berdetak serasa disiram air es.
Pintu sedan hitam itu terbuka. Dari dalam keluar seorang pria bertubuh jangkung dengan kemeja putih berlengan panjang yang tergulung rapi, celana bahan gelap, dan kacamata hitam yang disangkutkan di kerah kemeja. Gaya pakaiannya, cara berjalannya yang percaya diri namun terkesan menuntut, serta raut wajahnya yang familiar membuat dada Sonia seketika sesak.
Itu Bagas. Mantan calon suaminya.
Sonia berdiri membeku di balik pintu. Tangannya gemetar hebat. Bagaimana pria itu bisa menemukan tempat tersembunyi ini? Apakah ibunya yang memberikan alamat rumah sewa ini? Ataukah Bagas menyewa orang untuk melacak keberadaannya di luar kota?
Sebelum Sonia sempat mengunci pintu samping atau menarik napas untuk menenangkan diri, suara ketukan keras dan tidak sabaran sudah memukul daun pintu depan.
Tuk! Tuk! Tuk!
"Sonia! Aku tahu kamu di dalam!" suara Bagas bergema tajam dari teras luar. "Nia, tolong buka pintunya! Kita harus bicara!"
Sonia meremas jemarinya sendiri, memejamkan mata rapat-rapat. Suara Bagas seketika memicu gelombang trauma lama—ingatan akan bentakan halus yang memanipulasi, tuduhan bahwa ia wanita egois, serta kebohongan-kebohongan finansial yang dulu hampir menghancurkan hidupnya.
"Nia, buka pintunya!" ketuk Bagas lebih keras, nada suaranya mulai memperlihatkan ketidaksabarannya. "Aku sudah jalan lima jam dari Jakarta cuma buat nyari kamu! Kamu nggak bisa terus-terusan kabur dan bertindak kayak anak kecil begini!"
Mendengar kata anak kecil dan kabur, rasa panik di dalam dada Sonia perlahan-lahan bertransformasi menjadi letupan amarah yang dingin. Sonia menarik napas dalam-dalam, menegakkan bahunya, lalu membuka pintu depan.
Bagas berdiri di teras dengan wajah yang tampak lelah namun memancarkan keangkuhan yang sangat dikenal Sonia. Saat pintu terbuka, raut wajah Bagas seketika melunak, memasang senyuman manis buatan yang dulu selalu berhasil meluluhkan keluarga Sonia.