Rumah Bagi Dua Hati

kholid alamsyah
Chapter #18

Keputusan yang Tegas

Sisa-sisa raungan mesin mobil sedan milik Bagas telah sepenuhnya lenyap ditelan lembah. Yang tersisa di teras rumah sewa itu hanyalah desir lembut angin sore yang bertiup dari permukaan danau, membawa harum aroma tanah basah dan daun pinus. Dalam keheningan yang kembali memeluk bukit, Sonia masih membenamkan wajahnya di dada bidang Andrew. Isak napasnya yang perlahan teratur beradu dengan detak jantung Andrew yang konstan dan menenangkan.

Andrew tidak terburu-buru melepaskan pelukannya. Kedua tangannya yang kokoh melingkar protektif di bahu Sonia, memberikan sandaran paling kokoh yang tak pernah wanita itu miliki sebelumnya.

Setelah beberapa saat, Sonia mengurai pelukannya perlahan. Ia mendongak, menyapu air mata tipis di pipinya dengan punggung tangan. Pergelangan tangan kirinya tampak sedikit memerah akibat cengkeraman kasar Bagas tadi.

Andrew memperhatikan pergelangan tangan itu. Kerutan tipis muncul di keningnya. "Duduk dulu, Sonia. Saya ambilkan kompres air dingin."

"Nggak apa-apa, Ndra. Cuma memerah sedikit," bisik Sonia parau, mencoba tersenyum.

"Duduklah," ulang Andrew dengan nada suara yang lembut namun tak menerima bantahan.

Sonia menuruti perkataan Andrew, duduk di bangku kayu teras. Andrew berjalan masuk ke dapur rumah sewa, membasahi kain lap bersih dengan air sumur yang dingin menembus tulang, lalu kembali ke teras. Ia duduk bersimpuh di samping kursi Sonia, meraih jemari Sonia dengan sangat hati-hati, lalu menempelkan kain dingin itu ke kulit pergelangan tangannya yang memerah.

Sentuhan kain dingin itu membuat Sonia menghela napas lega. Namun yang lebih dari itu, kehati-hatian jemari Andrew saat memegangnya—seolah-olah pergelangan tangannya adalah ukiran kayu langka yang ringkih—membuat dada Sonia dipenuhi kehangatan yang meluap.

"Pria itu nggak bakal berani balik lagi ke sini," ujar Andrew pelan, matanya fokus pada kain kompres di tangannya. "Kalau dia berani mengganggumu lagi, Pak RT sama warga desa yang bakal mengusirnya."

Sonia menatap kepala Andrew yang menunduk di dekat lututnya. Rambut pendek pria itu sedikit berantakan terkena angin sore. "Terima kasih, Andrew. Dulu... tiap kali Bagas marah atau memaksakan kehendak, saya selalu merasa sendirian dan ketakutan. Tapi tadi, pas kamu berdiri di depan saya... rasanya seperti ada dinding batu yang melindungi saya dari badai."

Andrew mendongak, menatap mata Sonia. Binar mata wanita itu begitu jujur, sarat akan rasa percaya yang mendalam. "Kamu nggak sendirian lagi di sini, Sonia."

Kalimat sederhana itu menggantung di udara, menjadi cangkang perlindungan yang mengunci rasa aman di hati mereka berdua.

Setelah memastikan pergelangan tangan Sonia membaik dan menyeduhkan teh manis hangat untuk wanita itu, Andrew pamit turun menuju bengkel kayunya.

Malam mulai merayap naik di Lembah Danau. Udara dingin pegunungan menyusup lewat celah-celah papan bengkel. Andrew menyalakan lampu gantung pertukangannya. Cahaya kuning hangat menerangi meja gambar arsitekturnya, tempat ponselnya tergeletak pasif sejak pagi.

Lihat selengkapnya