Keheningan Sabtu pagi di Lembah Danau terasa amat membebaskan. Sinar matahari terbit menembus kabut tipis di atas permukaan air, menyiram pepohonan pinus dengan pendar kuning keemasan yang hangat. Tidak ada lagi rasa waswas atau bayang-bayang ketakutan yang menggantung di udara. Langkah kaki Andrew yang terdengar menanjak menuju teras rumah sewa bukan lagi mendatangkan rasa canggung, melainkan kepastian yang menenangkan dada Sonia.
Sonia sedang duduk di teras, memegang cangkir teh hangatnya ketika ponselnya di atas meja bergetar pelan.
Sonia melirik layar. Nama yang tertera adalah Ibu.
Sonia terdiam sejenak. Ada desiran tegang yang sempat muncul secara refleks, tetapi mengingat bagaimana Andrew berdiri tegak melindunginya dua hari lalu, ketakutan itu seketika meluruh. Sonia menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel itu ke telinganya.
"Halo, Bu..." sapa Sonia dengan suara yang tenang dan berwibawa.
Di seberang saluran, keheningan sempat tercipta selama beberapa detik. Tidak ada bentakan tinggi atau cecaran emosional seperti dua minggu lalu. Yang terdengar justru helaan napas panjang dan berat dari ibunya.
"Nia..." suara ibunya terdengar pelan, agak serak, dan sarat akan penyesalan. "Ibu... Ibu mau minta maaf, Nia."
Sonia agak tersentak pelan. "Bu?"
"Kemarin lusa Bagas datang ke rumah," cerita ibunya, suaranya gemetar. "Dia marah-marah, mengamuk di depan Om Broto sama Tante Mirna karena kamu menolak ikut dia pulang. Karena emosi, dia sampai keceplosan ngomong kasar dan ngaku kalau dia memang pakai nama kamu buat jaminan utangnya. Tante Mirna sama Om Broto sampai syok dengarnya."
Sonia mendengarkan dalam diam, mendengarkan setiap patah kata ibunya tanpa menyela.
"Ibu baru sadar... betapa butanya Ibu selama ini," lanjut ibunya parau, air mata terdengar menetes di seberang sana. "Ibu terlalu mikirin apa kata orang, mikirin gengsi acara gedung, sampai Ibu nggak mau dengar jeritan hatimu, Nia. Kamu hampir saja hancur gara-gara keegoisan Ibu. Maafkan Ibu ya, Nak... Tolong maafkan Ibu."
Beban berat yang selama berminggu-minggu menghimpit pundak Sonia seketika luruh sepenuhnya. Pengakuan jujur dan permohonan maaf dari ibunya adalah potongan puzzle terakhir yang ia butuhkan untuk menyembuhkan luka batinnya dari masa lalu Jakarta.
Sonia memejamkan mata rapat-rapt, mengusap air mata haru yang menetes pelan di pipinya. "Nia sudah maafkan Ibu dari dulu. Nia cuma ingin Ibu mengerti kalau Nia berhak bahagia dengan pilihan Nia sendiri."