Lembah Danau malam itu dibalut oleh keheningan yang anggun. Angin pegunungan bertiup lembut menyapu permukaan air danau yang pekat, membawa harum resin pinus dan dingin tanah basah. Di balik jendela-jendela kayu rumah desa, lampu-lampu minyak membiaskan pendar kuning hangat. Namun di pelataran bengkel kayu Andrew, waktu seolah berjalan lebih lambat, memberikan ruang bagi dua jiwa yang telah pulih untuk merayakan keutuhan perasaan mereka.
Andrew berdiri di depan meja kerja besar, menyalakan lampu gantung pertukangan yang tergantung rendah di atas balok kayu jati. Pria itu baru saja membersihkan sisa-sisa tatal kayu dari permukaan meja dengan kuas tebal. Di tengah meja itu, tergeletak sebuah kotak kayu mungil berukuran lima kali lima sentimeter yang baru saja ia selesaikan.
Kotak itu dibuat dari perpaduan dua jenis kayu yang berbeda: bagian dasarnya dibentuk dari kayu jati tua berwarna cokelat keemasan yang kokoh dan berurat tegas, sementara tutupnya diukir dari kayu sonokeling dengan serat-serat guratan hitam pekat yang anggun. Kedua jenis kayu yang berbeda sifat dan warna itu disambungkan menggunakan teknik dovetail—sambungan ekor burung—tanpa paku besi sedikit pun, terkunci rapat dan menyatu secara sempurna.
Di atas permukaan tutup sonokeling itu, Sonia telah menggoreskan sentuhan kuas kecilnya tadi sore: sebuah ukiran garis kontur danau tipis yang dilapisi tinta emas.
Langkah kaki Sonia yang teratur terdengar mendekati pintu bengkel. Wanita itu mengenakan sweater rajut warna abu-abu tua dengan syal merah marun melingkar di lehernya. Di tangannya, ia membawa dua cangkir keramik beruap berisi teh melati manis hangat yang baru ia seduh di rumah sewa.
"Andrew," sapa Sonia pelan, suara renyahnya menyapa keheningan malam. "Teh hangatnya sudah jadi."
Andrew menoleh, mengukir senyuman hangat yang tidak lagi menutupi kebahagiaannya. Ia meletakkan amplas halus yang dipegangnya, melangkah mendekati Sonia, lalu menerima satu cangkir teh tersebut.
"Terima kasih, Sonia," kata Andrew lembut.
Sonia melangkah mendekati meja kerja utama, matanya langsung tertambat pada kotak kayu mungil bersambungan dovetail yang tergeletak di bawah pendar lampu gantung.
"Ini... kotak kayu yang kamu rapikan tadi sore?" tanya Sonia penuh minat, meletakkan cangkirnya di samping meja dan meraih kotak mungil itu.
Jemari lentik Sonia mengusap permukaan kayu sonokeling dan jati tua yang terasa begitu mulus di tangannya. Sambungan antar-kayunya begitu presisi, tidak ada celah sekecil apa pun di antara dua material yang berbeda tersebut. Saat tutupnya digeser perlahan, terdengar bunyi klik halus dari pasak kayu tersembunyi di dalamnya.