Rumah Bagi Dua Hati

kholid alamsyah
Chapter #21

Merancang Rumah Bersama

Sinar matahari pagi di pertengahan kemarau menyiram bentangan Lembah Danau dengan pendar kuning keemasan yang jernih. Udara pegunungan terasa sejuk bersahabat, menerbangkan uap air tipis yang membumbung dari permukaan danau. Di pelataran bukit kecil persis di samping bengkel kayu tua Kakek Bahri, rumput-rumput liar yang tumbuh subur telah dirapikan oleh Andrew akhir minggu lalu. Tanah seluas empat ratus meter persegi yang menghadap langsung ke arah danau dan bukit barat itu adalah tanah warisan almarhum kakeknya yang selama bertahun-tahun dibiarkan kosong.

Pagi itu, Andrew dan Sonia berdiri berdampingan di tengah tapak tanah tersebut. Windbreaker ringan berwarna hijau zaitun melingkupi tubuh Sonia, sementara Andrew mengenakan kemeja flanel berlengan tergulung dan sepatu bot kerjanya. Di tangan Andrew, tergulung selembar kertas denah situasi dan pita pengukur baja sepanjang tiga puluh meter.

"Di sini titik terbaiknya, Sonia," tunjuk Andrew dengan ujung meteran bajanya ke arah bukit barat. "Kalau kita tempatkan bangunan utama menghadap lima derajat ke utara, kita bisa dapat tangkapan angin danau secara maksimal saat siang, tapi tetap terlindung dari terpaan angin badai malam dari puncak."

Sonia menoleh ke arah yang ditunjuk Andrew, memejamkan mata sejenak merasakan hembusan angin pagi yang menyejukkan wajahnya. Ketika ia membuka mata, senyum hangat terukir di bibirnya.

"Dan cahaya matahari sore bakal masuk langsung dari sudut jendela utama," tambah Sonia antusias, jemarinya membentuk kerangka bingkai imajiner di depan matanya. "Sempurna buat pencahayaan alami studio gambar."

Andrew menatap Sonia dengan binar mata yang dipenuhi rasa kagum dan kehangatan. "Mari kita pindahkan ide-ide ini ke atas kertas."

Mereka berdua berjalan turun menuju bangsal bengkel kayu. Di sudut favorit mereka, meja gambar arsitek kayu klasik milik Andrew telah dibersihkan dari debu tatal kayu. Di atas papan miringnya, tergelar beberapa lembar kertas kalkir tebal berukuran A1, siap dengan pensil mekanik, jangka, penggaris skala triangular, dan kuas perata. Di samping meja gambar, Sonia meletakkan tablet grafisnya, beberapa buku sampel warna alami, dan sketsa-sketsa awal bentuk massa bangunan yang sempat ia coret semalam.

Ini adalah pertama kalinya dua keahlian berbeda kepresisian arsitektur tiga dimensi Andrew dan kepekaan estetika visual Sonia dilebur menjadi satu proyek bersama yang teramat pribadi: merancang rumah masa depan mereka.

Andrew menarik dua bangku kayu tinggi, mempersilakan Sonia duduk di sebelahnya. Pria itu menempelkan kertas kalkir di papan miring dengan selotip kertas di setiap sudutnya.

"Kita mulai dari zoning dan alur ruangnya," kata Andrew, mengetukkan ujung pensil mekaniknya pelan di atas kertas transparan. "Sebagai arsitek, saya selalu berpatokan pada fungsi. Tapi saya mau tahu... apa yang paling penting buat kamu di rumah ini, Sonia?"

Lihat selengkapnya