Pagi itu, udara Lembah Danau terasa amat bening dan dingin. Sinar matahari fajar baru saja memecah garis kabut di atas puncak bukit barat, membiaskan pendar merah keemasan pada hamparan air danau yang tenang. Di tanah tapak rumah baru persis di samping bengkel kayu tua, beberapa pasang papan draf patok pembatas sudah terpasang rapi, menandai perimeter calon hunian Andrew dan Sonia.
Aroma tanah basah yang baru digali bercampur dengan wewangian tajam dari dedaunan pinus yang diterpa embun. Namun pagi ini, pelataran bukit yang biasanya hening itu telah diramaikan oleh kehadiran belasan warga desa.
Di Lembah Danau, tradisi sambatan gotong royong tanpa pamrih antarwarga untuk membantu tetangga mendirikan rumah masih terjaga dengan amat lestari. Sejak pukul enam pagi, Mbah Margo, Pak RT, Pak Sumarno, dan beberapa pemuda desa sudah berkumpul di tapak bangunan. Mereka membawa cangkul, sekop, ember adukan semen, serta linggis baja besar.
"Nah, Ndra!" panggil Mbah Margo hangat, menyandarkan tongkat kayunya pada patok sudut. "Hari yang bagus buat peletakan batu pertama. Langit terang, angin danau juga bersahabat. Bismillah."
Andrew yang mengenakan kaus kerja abu-abu kusam dan celana jins tebal mengangguk tulus. Di sampingnya, Sonia berdiri anggun dengan kemeja flanel bergaris hijau dan celana kain santai. Rambut hitamnya diikat rapi di belakang leher, dan wajahnya memancarkan pendar kebahagiaan yang sangat jernih.
"Terima kasih banyak, Mbah, Pak RT, dan Bapak-bapak sekalian," ujar Andrew dengan suara beratnya yang penuh rasa hormat. "Saya dan Sonia betul-betul berterima kasih atas bantuan semuanya."
"Halah, Mas Andrew ini seperti sama siapa saja!" tawa Pak RT sembari menepuk bahu Andrew dengan akrab. "Sampeyan ini sudah banyak membantu desa kita, dari benerin dermaga, perpustakaan, sampai papan bengkel. Sekarang ganti warga yang bantu benerin rumah tempat sampeyan mau membina keluarga."
Ucapan Pak RT soal membina keluarga membuat pipi Sonia merona hangat di bawah sinar fajar. Ia tersenyum tulus, melirik Andrew yang juga menatapnya dengan binar mata yang penuh kelembutan.
Proyek peletakan fondasi pun dimulai dengan alur kerja yang serba cekatan dan penuh kehangatan sosial.
Andrew memimpin bagian teknis pengukuran elevasi lantai. Menggunakan selang air transparan berisi cairan berwarna merah, Andrew mengukur presisi ketinggian empat pasang umpak batu kali yang bakal menjadi dudukan utama tiang kayu jati rumah mereka. Sebagai mantan arsitek, kepresisian perhitungan Andrew amat dikagumi para warga desa; tiap sentimeter kemiringan tanah diukur dengan sangat cermat agar beban bangunan terdistribusi merata.
Sementara itu, para pemuda desa bertugas mengaduk semen, pasir sungai, dan kerikil pecah. Suara gesekan sekop beradu adukan semen dan dentang besi linggis membentur batu kali menggema berirama di udara pagi, bersahut-sahutan dengan gelak tawa dan gurauan khas warga pedesaan.