Tiga bulan berlalu sejak batu pertama ditanam di sudut tenggara pelataran bukit. Musim kemarau yang sejuk di Lembah Danau berganti menyambut pertengahan musim gugur pegunungan. Pepohonan pinus di sekeliling danau menggugurkan jarum-jarum cokelatnya yang beraroma harum, melapisi jalan setapak berbatu dengan hamparan karpet alami.
Di atas tapak tanah warisan Kakek Bahri, rumah kayu berarsitektur vernacular modern itu kini telah berdiri tegak dan anggun. Bangunan bertingkat satu setengah itu menyatu tanpa celah dengan kontur alam bukit. Dinding bata ekspos warna terakota hangat berpadu serasi dengan rangka kayu jati tua yang dilapisi pelindung alami bening. Atap limasannya yang tinggi dinaungi genteng tanah liat lokal, memberikan kesan berwibawa namun tetap membumi.
Pagi itu, suasana di dalam rumah terasa begitu hidup. Bau cat akrilik yang baru mengering bercampur dengan aroma minyak lilin lebah yang digosokkan ke permukaan furnitur kayu jati, menciptakan wewangian khas hunian baru yang sedang menyerap napas pertamanya.
Andrew berdiri di tengah ruang keluarga utama. Pria itu memakai kaus hitam kerjanya, lengannya ternoda sedikit kilap pelindung kayu transparan. Di tangannya, ia memegang kain lap wol halus, menggosok permukaan meja makan panjang berbahan kayu jati utuh buatan tangannya sendiri.
Meja makan itu dibuat dari selembar papan kayu jati tua tebal lima sentimeter yang dipertahankan pinggiran serat alaminya. Andrew mengamplasnya hingga sehalus sutra, memperlihatkan serat-serat guratan meliuk berwarna cokelat keemasan yang memantulkan pendar sinar matahari pagi.
Tak jauh dari meja makan, Sonia berdiri di atas tangga kayu tiga pijakan. Wanita itu mengenakan kemeja longgar warna krem dengan celana kain santai yang bagian lututnya terkena sedikit noda cat putih. Rambutnya diikat sanggul acak-acakan di atas kepala. Di tangannya, Sonia memegang kuas melukis berukuran sedang dan kaleng cat akrilik warna cokelat tanah.
Sonia sedang memberikan sentuhan akhir pada mural aksen di dinding utama ruang keluarga—sebuah hiasan garis-garis abstrak lengkung bernuansa bumi yang mengalir anggun dari sudut perapian batu alam menuju bukaan jendela besar danau.
"Andrew, coba lihat ini sebentar," panggil Sonia dari atas tangga, suaranya renyah memecah keheningan ruangan.
Andrew meletakkan kain lap wolnya, melangkah mendekati tangga. Pria itu mendongak, menatap Sonia yang sedang menyapu sedikit keringat di dahi dengan punggung lengannya.
"Kenapa, Sonia?" tanya Andrew lembut.
Sonia menunjuk ke garis lengkung teratas muralnya, yang membingkai bingkai foto kayu buatan Andrew tempat mereka menyimpan sketsa denah pertama rumah ini. "Garis warna cokelat tanah ini... menurutmu terlalu gelap nggak buat warna dinding krem di belakangnya?"
Andrew mundur tiga langkah, memiringkan kepalanya sedikit untuk menilai komposisi visual tersebut dari sudut pandang ruang tengah. Matanya mengamati harmoni antara pendar cahaya matahari yang masuk lewat jendela, serat keemasan meja jati di bawahnya, dan garis cokelat buatan Sonia.