Sabtu pagi di minggu kedua bulan Oktober menyapa Lembah Danau dengan langit biru bersih tanpa selembar pun awan mendung. Angin dingin pegunungan berembus lembut membawakan aroma tanah segar dan pinus. Pelataran bukit di depan rumah baru Andrew dan Sonia tampak begitu meriah, dihiasi janur kuning dan deretan bangku kayu yang ditata rapi di bawah naungan tenda kain abu-abu sederhana.
Hari ini adalah hari syukuran rumah baru—sebuah tradisi selamatan warga lokal untuk mengucap syukur atas berdirinya rumah kayu Andrew dan Sonia. Sejak pukul delapan pagi, aroma harum tumpeng nasi kuning, olahan bumbu rendang, ayam panggang kecap, dan urap sayur segar buatan Bu Sumi dan Mbak Rani membumbung harum dari teras dapur.
Para warga desa berdatangan secara bertahap. Mbah Margo berjalan perlahan menaiki tangga teras dengan seragam kemeja batik alusnya, disusul Pak RT, Pak Sumarno, serta belasan anak-anak desa yang dulu ikut mewarnai perpustakaan balai desa. Anak-anak kecil itu berlarian riang di teras kayu luar, terpukau melihat mural danau buatan Sonia di ruang tengah.
Namun di antara semua tamu warga desa yang hadir, ada satu sosok yang membuat dada Sonia dipenuhi keharuan yang teramat dalam.
Di dekat pintu masuk utama, berdiri seorang wanita paruh baya bermata teduh dengan gaun kebaya simpel dan selendang batik melingkar di bahunya. Wanita itu menatap sekeliling rumah kayu baru tersebut dengan mata berbinar kagum, mengusap permukaan kusen pintu jati yang mulus buatan Andrew.
Itu ibu Sonia.
Setelah percakapan telepon yang emosional dua minggu lalu, ibunya memutuskan untuk menempuh perjalanan darat lima jam dari Jakarta untuk menghadiri syukuran rumah baru putrinya. Ini adalah kedatangan pertama ibunya ke Lembah Danau—sebuah momen pembuktian bahwa Sonia tidak sedang melarikan diri, melainkan sedang membangun kehidupan sejati yang jauh lebih bermakna.
Sonia melangkah mendekati ibunya, merapatkan kemeja batik sutra hijaunya. "Ibu... bagaimana perjalanan ke sininya? Nggak terlalu lelah, kan?"
Ibunya berpaling, menatap Sonia dalam-dalam. Ada genangan air mata haru di sudut mata wanita tua itu saat mengamati wajah putrinya. Wajah Sonia yang dulu di Jakarta selalu tampak pucat, lelah, dan penuh tumpukan beban kecemasan, kini memancarkan pendar kebahagiaan yang sangat jernih, sehat, dan berwibawa.