Rumah Bagi Dua Hati

kholid alamsyah
Chapter #25

Rumah Bagi Dua Hati

Satu tahun berlalu sejak batu pertama fondasi ditanam di pelataran bukit. Musim kemarau kembali melingkupi Lembah Danau dengan cuaca yang teramat sejuk dan jernih. Pendar matahari pagi menembus celah-celah daun pinus, membiaskan uap air yang membumbung anggun dari permukaan danau yang berkilau bagaikan hamparan kaca raksasa.

Kehidupan di rumah kayu bernuansa vernacular modern itu kini telah menemukan iramanya yang paling sempurna dan matang.

Di studio gambar sayap kanan rumah, Sonia sedang menyelesaikan ilustrasi sampul buku cerita anak internasional ketiga yang dipercayakan kepadanya. Cahaya matahari pagi masuk melimpah dari jendela kaca besar menghadap danau. Di atas meja kerja jati tuanya, tempat pen kayu jati buatan Andrew berdiri anggun memegang alat-alat gambarnya, sementara kakinya bersandar nyaman di atas ganjalan kayu sonokeling yang dibuat Andrew dengan penuh kasih sayang.

Setiap minggu sore, studio gambar Sonia juga menjadi ruang kelas melukis gratis bagi anak-anak desa. Dinding studio itu kini dipenuhi oleh hasil karya warna-warni anak-anak Lembah Danau, memancarkan keceriaan seni yang menghidupkan seluruh sudut ruangan.

Sementara itu, di bengkel kayu sayap kiri, Andrew sedang menyelesaikan pesanan set meja makan jati utuh untuk sebuah resor ramah lingkungan di kota tetangga. Bunyi deru berirama ketam kayu manual dan aroma gurih tatal kayu jati tua memenuhi udara. Andrew tidak lagi mengerjakan furnitur sebagai pelarian dari rasa gagal, melainkan sebagai bentuk dedikasi jiwa seorang seniman kayu yang menghargai setiap inci serat ciptaan alam.

Nama Bengkel Kayu Bahri kini makin dikenal luas sebagai produsen furnitur kayu kriya berkualitas tinggi yang dikerjakan dengan ketelitian presisi dan ketulusan hati.

Pukul lima sore, ketika pekerjaan hari itu diselesaikan, Andrew mematikan sakelar lampu bengkelnya, mengelap tangannya hingga bersih, lalu berjalan masuk ke ruang keluarga utama.

Sonia sedang berdiri di teras luar, merapatkan cardigan rajut warna marunnya sembari memandangi langit sore yang mulai membiaskan pendar jingga keemasan di atas air danau.

Andrew melangkah mendekati Sonia dari belakang, melingkarkan kedua tangannya yang kokoh di sekeliling pinggang Sonia, lalu menyandarkan dagunya di bahu ramping wanita itu. Sonia tersenyum hangat, menyandarkan kepalanya di dada bidang Andrew, menghirup aroma maskulin bercampur wangi tatal kayu jati yang selalu memberinya rasa aman paling utuh.

"Mau keliling danau sebentar?" bisik Andrew lembut di dekat telinga Sonia.

Sonia menoleh sedikit, menatap mata Andrew yang memancarkan binar cinta yang semakin dalam dan jernih. "Sama sampan kayu Kakek?"

Lihat selengkapnya