Rumah Bagi Dua Hati

kholid alamsyah
Chapter #26

Epilog: Serat-Serat Kebahagiaan

Tiga tahun berlalu sejak cincin kayu jati itu pertama kali disematkan di jari manis Sonia di atas sampan danau. Lembah Danau tak banyak berubah—gunung-gunung masih berdiri megah dipeluk kabut pagi, danau masih membiaskan pendar keemasan saat matahari terbit, dan angin dingin pegunungan tetap membawa harum resin pinus yang menenangkan.

Namun di pelataran bukit kecil persis di samping bengkel kayu tua, rumah kayu berarsitektur vernacular modern itu kini tumbuh makin menyatu dengan alam. Dinding batu bata eksposnya mulai dihiasi tanaman merambat hijau yang asri, sementara kayu jati pada teras luar tampak makin berkilau hangat dipoles oleh waktu.

Sabtu pagi itu, aroma kopi hitam tubruk dan kue bolu kukus hangat membumbung dari dapur terbuka.

Di studio gambar sayap kanan, Sonia sedang duduk di depan meja kerjanya. Rambut hitamnya diikat sanggul sederhana, dan wajahnya tampak memancarkan pendar keibuan yang amat lembut. Di samping meja gambarnya, sebuah boks bayi ukiran kayu jati berbentuk oval berdiri anggun—mahakarya Andrew yang dikerjakan selama dua bulan penuh sebelum putri kecil mereka lahir delapan bulan lalu.

Bayi mungil berusia delapan bulan bernama Kinanti itu sedang terbangun riang, jemari kecilnya meraih-raih mainan gantung berbentuk burung camar buatan ayahnya.

"Pagi, Anak Pintar..." bisik Sonia lembut, melepaskan pensil gambarnya dan mengangkat Kinanti ke dalam pelukannya. Tawa renyah bayi itu seketika menghidupkan seluruh ruangan.

Lihat selengkapnya