Blurb
Di Rumah Batu, dindingnya keras dan hati penghuninya pun sama. Cinta tak diungkapkan dengan pelukan, melainkan bentakan dan tatapan dingin. Kami semua membatu.
Hingga muncul Paman Erlan, sosok nyeleneh nan bijak yang menjadi semen penyambung retakan hati kami. Takdir pun bergulir, meruntuhkan dinding beton dan memaksa kami pindah ke sebuah gubuk reyot.
Ironisnya, justru di tempat sederhana inilah kami menemukan kedamaian. Aku akhirnya sadar, rumah yang kokoh bukan dibangun dari batu, melainkan dari hati yang mau melunak dan hidup dalam kejujuran.