Rumah itu tidak hanya dibangun dari adukan semen dan pasir. Di balik dinding batunya yang kelabu dan dingin, ada ribuan amarah yang telah mengerak dan jutaan gengsi yang ditumpuk setinggi atap.
Banyak orang bilang, rumah adalah tempat di mana hatimu berada. Tapi bagiku, rumah adalah sebuah medan perang tanpa senjata. Di sini, kasih sayang tidak pernah datang lewat pelukan hangat sebelum tidur, melainkan lewat bentakan yang memekakkan telinga atau diam yang lebih tajam dari sembilu. Kami semua adalah batu. Keras, kaku, dan selalu punya cara untuk saling berbenturan hingga menciptakan percikan api.
Ayahku, adalah batu gunung yang menyimpan magma kemarahan di balik dadanya yang bidang. Sekali ia bicara, lantai rumah seolah ikut bergetar. Lalu ada Ibuku, yang lidahnya seakan ditempa dari serpihan batu tajam, setiap katanya mampu menyayat kulit tanpa menyisakan darah.
Namun, di antara batu-batu besar yang saling menekan itu, ada satu batu kali yang tenang... Paman Erlan. Dia adalah anomali. Sosok gembul yang otaknya seringkali dianggap kosong, tapi jiwanya adalah satu-satunya yang tidak membeku di rumah ini. Paman Erlan adalah orang pertama yang mengingatkanku bahwa sekeras-kerasnya batu, ia tetap bisa hancur oleh setetes air yang datang dengan kesabaran.
Inilah cerita tentang retakan-retakan di dinding kami. Cerita tentang bagaimana kami, para manusia batu, belajar bahwa untuk menjadi kokoh, kami tidak harus selalu menjadi keras. Karena terkadang, rumah yang paling kuat bukanlah yang tak bisa retak, melainkan rumah yang tahu kapan harus saling merangkul sebelum semuanya menjadi puing yang tak berarti.