Rumah itu tidak hanya dibangun dari adukan semen dan pasir. Di balik dinding batunya yang kelabu dan dingin, ada ribuan amarah yang telah mengerak dan jutaan gengsi yang ditumpuk setinggi atap.
Banyak orang bilang, rumah adalah tempat di mana hatimu berada. Tapi bagiku, rumah adalah sebuah medan perang tanpa senjata. Di sini, kasih sayang tidak pernah datang lewat pelukan hangat sebelum tidur, melainkan lewat bentakan yang memekakkan telinga atau diam yang lebih tajam dari sembilu. Kami semua adalah batu. Keras, kaku, dan selalu punya cara untuk saling berbenturan hingga menciptakan percikan api.