Lantai semen itu selalu terasa lima derajat lebih dingin dari suhu udara di luar. Setiap kali telapak kakiku menyentuhnya, ada sensasi ngilu yang merambat naik ke sumsum tulang, seolah-olah rumah ini sedang berusaha menyedot sisa-sisa kehangatan dari tubuhku. Aku menyebutnya sambutan selamat datang yang paling jujur dari Rumah Batu.
Namaku Hilman, dan aku adalah seorang ahli dalam menghitung retakan.
Di dinding ruang tamu, tepat di bawah foto kakek yang sudah menguning, ada sebuah retakan panjang yang menyerupai silsilah keluarga kami: bercabang, berliku, dan tajam di ujungnya. Aku sering duduk di kursi rotan yang sudah reyot, hanya untuk memandangi jejak-jejak kerusakan itu sambil mendengarkan simfoni harian di rumah ini. Simfoni yang tidak terdiri dari denting piano atau gesekan biola, melainkan dari dentuman pintu yang tertutup keras dan keheningan yang menyesakkan dada.
"Hilman! Berapa kali Ibu bilang, kalau pulang itu langsung mandi! Jangan cuma duduk melamun seperti orang kehilangan akal!"
Suara itu datang dari arah dapur, melesat seperti anak panah yang ujungnya sudah dicelup racun. Itu suara Nyi Lilis, ibuku. Beliau tidak perlu berteriak untuk membuat orang gemetar. Cukup dengan nada bicara yang rendah namun tajam, ia bisa membuat siapa pun di rumah ini merasa sekecil debu di bawah lemari.
Aku bangkit berdiri. Tidak membantah. Di Rumah Batu, membantah adalah sebuah dosa besar yang hukumannya bisa berlangsung selama satu minggu penuh dalam bentuk aksi diam yang membekukan.
"Iya, Bu," jawabku pelan.
Aku berjalan melewati lorong sempit menuju kamar mandi. Di sana, aku berpapasan dengan Adit, abang tertuaku. Dia mengenakan kemeja yang disetrika sangat rapi, seolah-olah setiap lipatannya adalah bukti status sosialnya yang lebih tinggi dari kami semua. Adit tidak menoleh. Dia hanya mendengus saat bahuku secara tidak sengaja bersenggolan dengan lengannya. Di rumah ini, persinggungan fisik adalah hal tabu. Kami saling menghindari, seolah-olah bersentuhan akan membuat ego kami yang keras ini saling pecah.
"Hati-hati, Hilman. Matamu itu dipakai, jangan cuma buat menghitung cicak di langit-langit," sindirnya tanpa menghentikan langkah.
Adit adalah replika sempurna dari Ayah, Ki Yanto. Mereka adalah batu gunung yang sulit ditembus. Baginya, aku hanyalah adik yang lembek, pasir yang terbawa angin, tak punya masa depan yang sekokoh karang seperti yang ia impikan.