Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #3

Meja Makan yang Membatu

​Ada sebuah ritual tak tertulis di Rumah Batu yang jauh lebih menakutkan daripada kegelapan malam mana pun: makan malam. Bagiku, meja makan kami bukanlah tempat untuk berbagi cerita atau tawa, melainkan meja perundingan gencatan senjata yang sangat rapuh. Meja itu terbuat dari kayu jati tua yang sudah menghitam, permukaannya terasa kasar dan dingin, persis seperti hati orang-orang yang duduk mengelilinginya.


​Pukul tujuh malam tepat, denting sendok yang beradu dengan piring porselen menjadi satu-satunya suara yang diizinkan mengudara. Di Rumah Batu, suara adalah ancaman. Kami belajar untuk mengunyah sehalus mungkin, seolah-olah suara kunyahan yang terlalu keras bisa memicu ledakan magma yang tersimpan di balik dada Ayah.


​Ki Yanto duduk di kepala meja. Posisinya tak tergoyahkan, seperti seorang raja di atas takhta yang terbuat dari besi dan duri. Wajahnya yang legam terkena oli bengkel selama bertahun-tahun tampak seperti pahatan batu cadas yang kaku. Beliau tidak pernah memandang kami saat makan. Matanya hanya tertuju pada piringnya, namun aura kehadirannya memenuhi setiap sudut ruangan, membuat oksigen terasa tipis dan sulit untuk dihirup.


​Di sebelah kanannya, Nyi Lilis duduk dengan punggung tegak yang tak pernah menyentuh sandaran kursi. Ibu adalah penjaga gawang dari segala aturan di rumah ini. Beliau adalah sosok yang memastikan bahwa tidak ada satu butir nasi pun yang jatuh ke lantai, karena baginya, nasi yang jatuh adalah simbol dari disiplin yang runtuh.


​"Adit, bagaimana urusanmu di kantor?" tanya Ayah tiba-tiba. Suaranya rendah, namun bergema di ruangan yang sunyi itu.


​Adit, yang sedang memotong tempe dengan sangat rapi, berhenti sejenak. "Semua berjalan lancar, Yah. Proyek pembangunan ruko di pusat kota sudah masuk tahap final. Atasan saya bilang, saya punya peluang besar untuk naik jabatan tahun depan."


​Aku melihat Adit membusungkan dadanya sedikit. Di rumah ini, prestasi adalah satu-satunya bahasa yang Ayah mengerti. Adit tahu itu, dan dia menggunakannya sebagai perisai sekaligus senjata untuk memposisikan dirinya sebagai "batu yang paling berharga" di keluarga ini.


​"Bagus," jawab Ayah pendek. Satu kata itu adalah pujian tertinggi yang bisa diberikan Ki Yanto. "Jangan memalu-malukan nama saya. Jadilah laki-laki yang punya harga diri, jangan lembek."


​Kata 'lembek' itu dilemparkan seperti sebuah batu kerikil yang sengaja disasarkan ke arahku. Aku bisa merasakannya. Aku hanya menunduk, membolak-balik butiran nasi di piringku. Aku tahu, setelah ini giliran lidah tajam Ibu yang akan bekerja.


​"Dengar itu, Hilman?" Ibu menimpali sambil menyeka sudut bibirnya dengan serbet kain yang sangat putih. "Jangan seperti anak tetangga yang cuma bisa luntang-lantung tidak jelas. Hidup itu keras. Kalau kamu tidak punya prinsip yang kuat, kamu akan diinjak-injak orang sampai rata dengan tanah. Kamu mengerti?"


​"Mengerti, Bu," jawabku pelan. Suaraku hampir hilang di tenggorokan yang terasa kering.


Lihat selengkapnya