Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #4

Tamu Berbadan Gembul

​Matahari pagi di Rumah Batu tidak pernah benar-benar terasa hangat. Cahayanya yang masuk melalui celah-celah ventilasi sempit hanya tampak seperti garis-garis debu yang menari di udara yang pengap. Pagi ini, suasana biasanya diisi oleh denting saringan kopi Ayah atau bunyi sapu lidi Ibu yang menghantam lantai dengan ritme yang penuh tuntutan. Namun, ada sesuatu yang berbeda. Ada aroma aneh yang menyelinap di antara bau kayu tua dan bau oli: aroma mentega yang gosong dan tawa yang pecah secara tidak sengaja.


​Itu adalah hari ketiga sejak Paman Erlan memutuskan untuk "menetap sementara" di rumah kami. Sebenarnya, tidak ada yang tahu pasti kapan Paman Erlan akan pergi, karena dia datang tanpa membawa koper, hanya sebuah tas kain kusam yang isinya... menurut dugaanku, hanya beberapa lembar kaos kuning dan satu set mainan balok kayu yang warnanya sudah pudar.


​"Hilman! Hilman, coba sini! Bantu Paman melakukan eksperimen besar!" suara cempreng Paman Erlan memecah keheningan pagi yang suci bagi Ibu.


​Aku yang sedang mencoba memakai sepatu untuk berangkat kerja, menoleh ke arah dapur. Paman Erlan berdiri di sana, mengenakan celemek bunga-bunga milik Ibu yang nampak sangat kekecilan di tubuh gembulnya. Di tangannya ada sebuah sutil kayu yang dia pegang layaknya tongkat sihir.


​"Eksperimen apa, Paman? Ibu bisa marah kalau Paman mengacak-acak dapurnya," bisikku, melirik ke arah pintu kamar Ibu yang masih tertutup.


​Paman Erlan mendekat dengan langkah yang bergetar karena beban tubuhnya, lalu membisikkan sesuatu yang benar-benar tidak masuk akal. "Paman sedang mencoba membujuk telur-telur ini agar mau berubah jadi matahari. Kamu tahu kan? Kalau kita makan matahari di pagi hari, kita bakal bersinar sampai sore!"


​Aku menatap dua butir telur di atas meja yang cangkangnya sudah retak berantakan. "Paman, itu namanya telur ceplok. Dan itu gosong."


​Paman Erlan tertawa terbahak-bahak, menepuk perutnya yang buncit hingga bergoyang. "Ah, Hilman, kamu ini terlalu serius seperti Adit. Gosong itu kan cuma masalah sudut pandang. Kalau kata orang ini gosong, kalau kata Paman, ini adalah telur yang sedang mendapatkan warna kulit yang eksotis karena terlalu lama berjemur di atas wajan!"


​Aku hanya bisa menghela napas, namun anehnya, bibirku sedikit berkedut ingin tersenyum. Sesuatu yang sangat jarang terjadi di bawah atap ini.


​Paman Erlan sebenarnya adalah adik bungsu dari Ayah, tapi mereka bagaikan dua kutub magnet yang saling menolak. Ayah adalah gunung batu yang angkuh, sementara Paman Erlan adalah gumuk pasir yang santai dan tidak punya bentuk tetap. Keluarga besar kami sering menyebutnya sebagai "cacat produksi"... pria yang tumbuh dewasa hanya fisiknya saja, sementara pikirannya tertinggal di taman kanak-kanak. Namun, bagiku yang tumbuh dalam tekanan, "ketidakwarasan" Paman Erlan adalah oksigen.


​"Hilman, sini duduk sebentar. Jangan buru-buru jadi orang dewasa, di luar sana banyak orang dewasa yang mukanya kayak kanebo kering," Paman menarik sebuah kursi kayu dan memaksaku duduk.


​Dia meletakkan piring berisi telur yang lebih mirip arang itu di depanku. "Makanlah. Ini matahari versi Paman Erlan. Biar hatimu nggak mendung terus gara-gara omelan Ibumu semalam."


​Aku menatap telur itu, lalu menatap Paman. Keluguannya begitu tulus. Dia tidak peduli bahwa Ayah baru saja keluar dari kamar dengan wajah yang siap menyemprotkan api.


Lihat selengkapnya