Hujan turun bukan sebagai berkah pagi ini, melainkan sebagai gangguan yang menambah beban di kepala setiap penghuni Rumah Batu. Suara rintiknya yang menghantam atap seng terdengar seperti ribuan kuku yang mencakar-cakar, berusaha mencari celah untuk masuk dan membasahi lantai semen yang sudah lembap. Di dalam rumah, udara terasa seperti sup kental... panas, sesak, dan dipenuhi aroma keringat serta kecemasan.
Adit sedang berdiri di depan cermin besar di ruang tamu. Dia sedang bertarung dengan simpul dasinya, sebuah ritual yang dia lakukan dengan keseriusan seorang jenderal yang hendak maju ke medan perang. Baginya, penampilan adalah benteng terakhir. Jika dunia melihatnya rapi, maka dunia tidak akan tahu betapa rapuhnya ekonomi keluarga kami di balik dinding-dinding ini.
"Hilman, ambilkan payung di gudang. Cepat. Saya ada rapat penting satu jam lagi," perintah Adit tanpa menoleh. Suaranya datar, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Aku baru saja hendak melangkah menuju gudang ketika Paman Erlan muncul dari balik tirai kamar tamu, masih dengan kaos kuning pudar andalannya. Di tangannya, dia memegang sebuah batu kali yang permukaannya sangat halus, seolah-olah dia baru saja mengambilnya dari dasar sungai yang jernih.
"Adit, Adit... kamu itu mau rapat atau mau jadi patung di museum?" Paman Erlan mendekat, memandangi dasi Adit dengan dahi berkerut. "Dasi itu kayak jerat leher ya? Semakin kencang kamu tarik, semakin susah kamu napas. Apa itu yang namanya sukses?"
Adit mendengus, matanya berkilat marah di balik cermin. "Paman nggak akan mengerti. Dunia luar itu keras. Kalau saya nggak kelihatan tajam, orang-orang akan menganggap saya remeh. Paman mungkin lebih suka luntang-lantung nggak jelas, tapi saya punya harga diri yang harus dijaga."
Paman Erlan tertawa kecil, suara tawanya tenggelam di antara bunyi hujan. Dia mengangkat batu kali di tangannya tinggi-tinggi. "Kamu lihat batu ini? Ini namanya batu kali. Dia nggak tajam, Adit. Dia nggak punya sudut yang bisa melukai orang. Dia halus karena dia rela digesek sama air tiap hari, bertahun-tahun."
"Terus apa hubungannya sama saya?" Adit berbalik, menatap Paman Erlan dengan rasa muak yang kentara.
"Hubungannya? Kamu itu mau jadi batu gunung yang tajam. Kamu mau kelihatan hebat, mau kelihatan kokoh dengan sudut-sudutmu yang runcing. Tapi kamu tahu apa yang terjadi sama batu gunung kalau kena badai? Dia bisa longsor. Dia bisa hancur berkeping-keping karena dia kaku," Paman Erlan mengelus permukaan batu itu dengan sayang. "Tapi batu kali... air sekeras apa pun cuma lewat di atasnya. Dia nggak ngelawan air, dia cuma jadi diri sendiri. Makanya dia awet, Adit. Dia kokoh tanpa harus nyakitin siapa pun."
Adit menyambar tas kantornya dengan kasar. "Logika sampah. Paman cuma orang malas yang berlindung di balik kata-kata bijak yang nggak laku. Dunia ini butuh orang yang keras, bukan orang yang pasrah kayak batu kali!"
Adit melangkah keluar tanpa menunggu payung yang kumaksud. Dia menerobos hujan, membiarkan bahu kemeja mahalnya sedikit basah demi sebuah ego yang tak mau menunggu. Pintu depan berdentum keras, meninggalkan getaran yang merambat sampai ke piring-piring di rak dapur.
Aku berdiri mematung di antara Paman Erlan dan pintu yang baru saja tertutup itu. "Paman, Adit itu cuma pengen Ayah bangga," ujarku pelan.
Paman Erlan menatap pintu yang tertutup itu dengan pandangan yang sulit diartikan. "Ayahmu itu kayak tukang pahat, Hilman. Dia mau semua anaknya jadi patung yang sempurna. Tapi dia lupa, kalau batu dipahat terus tanpa ampun, lama-lama dia bakal retak dari dalem. Adit itu sudah retak, dia cuma nutupin retakannya pakai dasi dan kemeja mahal."
Paman Erlan mengajakku duduk di ambang pintu samping, tempat di mana kami bisa melihat hujan yang jatuh ke tanah merah di halaman. Dia mulai memainkan batu kali itu di tangannya, memutarnya dengan lincah.