Rumah Batu

ANTON SYAHRONI
Chapter #6

Suara di Balik Dinding

​Rumah Batu memiliki bahasa sendiri saat malam tiba. Ketika lampu bohlam di ruang tengah sudah dipadamkan dan hanya menyisakan keremangan yang kuning pucat, dinding-dindingnya mulai bicara. Bukan dalam bahasa manusia, melainkan dalam bentuk derit kayu yang memuai, detak jam dinding yang terdengar seperti ketukan palu hakim, dan suara angin yang terjepit di celah ventilasi, terdengar seperti rintihan yang tertahan.

​Malam ini, suhu di pinggiran kota terasa lebih menggigit. Aku berbaring di atas kasur, menatap langit-langit kamar yang tampak seperti peta buta dalam kegelapan. Di Rumah Batu, privasi adalah hal yang semu. Dinding kamar kami memang terbuat dari susunan batu yang kokoh, namun entah kenapa, mereka seolah menjadi konduktor yang sangat baik bagi suara-suara yang seharusnya tetap terkunci.

​Dari balik dinding sebelah kiri, aku bisa mendengar suara napas berat Ayah, suara yang selalu mengingatkanku pada mesin diesel tua yang dipaksa bekerja di bengkel. Dan dari balik dinding itu pula, suara-suara lain mulai merayap masuk ke telingaku.

​"Sudah saya bilang, jangan dipaksakan kalau memang tidak ada," suara Ibu terdengar rendah, namun ketajamannya menembus pori-pori dinding.

​"Kamu pikir saya diam saja? Saya sudah berusaha, Lilis! Tapi bengkel sedang sepi. Orang lebih memilih beli motor baru daripada memperbaiki rongsokan," balas Ayah. Suaranya tidak meledak seperti biasanya, namun ada nada keputusasaan yang lebih mengerikan daripada kemarahan.

​Aku menahan napas, menekan telingaku lebih rapat ke dinding yang dingin. Inilah rahasia Rumah Batu. Di depan kami, mereka adalah karang yang tak tergoyahkan. Namun di balik dinding kamar, karang itu sedang terkikis oleh ombak kenyataan yang pahit.

​"Anak-anak tidak boleh tahu. Terutama Adit. Dia sedang di puncak karirnya, jangan sampai dia terbebani masalah bengkel yang hampir kolaps ini," Ayah melanjutkan. Suaranya terdengar sangat letih, sebuah sisi yang tak pernah beliau izinkan untuk terlihat di meja makan.

​Aku menarik diriku menjauh dari dinding. Hatiku berdegup kencang. Jadi, itulah alasannya. Itulah mengapa Ayah semakin keras, mengapa Ibu semakin rajin menghitung setiap butir nasi dan pengeluaran Paman Erlan. Mereka sedang menambal lubang di kapal yang sedang bocor, sambil tetap berpura-pura bahwa kami sedang berlayar di laut yang tenang.

​Tiba-tiba, pintu kamarku diketuk pelan. Sangat pelan, seolah si pengetuk takut suaranya akan ikut diserap oleh dinding.

​Aku bangkit dan membuka pintu. Di sana berdiri Paman Erlan. Dia tidak memakai kaos kuningnya, melainkan sebuah sarung yang dililitkan asal-asalan ke bahunya. Wajah gembulnya tampak sedikit pucat di bawah sinar lampu koridor yang redup.

​"Hilman... kamu denger juga?" bisiknya.

​Aku mengangguk pelan. Kami berdua berdiri di lorong sunyi itu seperti dua pencuri yang tertangkap basah.

​"Dinding rumah ini nggak pinter jaga rahasia, ya?" Paman Erlan tersenyum getir. Dia mengajakku duduk di lantai koridor, menyandar pada dinding yang tadi baru saja kupakai untuk menguping.

​"Paman sudah tahu kalau bengkel Ayah sepi?" tanyaku dengan suara yang sangat kecil.

​Paman Erlan mengangguk, jari-jarinya memainkan ujung sarungnya. "Kak Yanto itu tipikal batu granit, Hilman. Di luar kelihatan mewah dan kuat, tapi sebenernya dia gampang retak kalau kena panas terus-menerus. Dia terlalu takut kalau keluarganya dianggap gagal. Dia pikir, jadi pemimpin itu artinya nggak boleh kelihatan susah."

​Paman Erlan menoleh ke arah kamar Ayah dan Ibu. "Padahal, kalau dia mau sedikit melunak, kalau dia mau bilang 'Lilis, aku lagi capek', mungkin dinding rumah ini nggak bakal terasa sedingin ini. Tapi ya itulah... di rumah ini, kata 'lelah' dianggap sebagai pengkhianatan."

​"Kenapa mereka nggak jujur sama kita, Paman? Terutama sama Adit?"

​Paman Erlan terkekeh tanpa suara, bahunya yang lebar berguncang pelan. "Adit? Adit itu proyek kebanggaan Kak Yanto. Kalau Kak Yanto jujur, itu artinya dia harus ngakuin kalau pondasi rumah yang dia banggain selama ini ternyata goyah. Dia nggak bakal sanggup denger Adit kecewa."

​Kami terdiam lagi. Suara perdebatan di kamar sebelah sudah berganti menjadi keheningan yang lebih berat. Aku membayangkan Ayah dan Ibu duduk di tepi ranjang, saling memunggungi, terjebak dalam pikiran masing-masing yang buntu.

Lihat selengkapnya